Riset IPB University: Pertanian Kota Ekologis di Depok Mampu Serap Karbon Setara Hutan Hujan Tropis
Riset IPB University: Pertanian Kota Ekologis di Depok Mampu Serap Karbon Setara Hutan Hujan Tropis
DEPOK, 15 Desember 2025 – Tim riset IPB University, berkolaborasi dengan organisasi nonprofit Rikolto dan Perhimpunan Indonesia Berseru, secara resmi mendiseminasikan hasil penelitian transformatif mengenai sistem pangan perkotaan. Penelitian yang berlangsung selama periode 2023–2025 ini mengungkapkan temuan luar biasa: pertanian kota yang dikelola secara ekologis dan simultan di pemukiman padat Kota Depok mampu menyerap karbon dengan efektivitas yang setara dengan hutan hujan tropis. Data ini dipaparkan di Hotel Margo (15/12) berdasarkan pengamatan intensif di enam lokasi demplot strategis, yaitu Paud Sejahtera, Jalan Sosial III, TPU Demang, Sukma Melati, Rusunawa, dan Jati Jajar. Acara ini dihadiri oleh Koordinator Pengendalian OPT Sayuran dan Tanaman Obat, Direktorat Perlindungan Hortikultura, Direktorat Jenderal hortikultura, Kementerian Pertanian; Asistem Deputi Ekonomi Sirkuler dan Dampak Lingkungan, Kementerian Koordinator Bidang Pangan; Asisten Deputi Produksi Pangan dan Perubahan Iklim, Kementerian Koordinator Bidang Pangan; Direktur Pangan dan Pertanian, Kementerian PPN/Bappenas; Kepala Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian; Serta Pemerintah Kota Depok.

Solusi Ekologis di Tengah Keterbatasan Ruang
Dekan Fakultas Pertanian IPB University, Prof. Suryo Wiyono, menjelaskan bahwa Urban Farming Ekologis hadir sebagai jawaban atas tantangan krusial Kota Depok, seperti kepadatan penduduk yang tinggi, minimnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) produktif, serta ketergantungan pangan yang memicu kerentanan terhadap inflasi4.
“Kami menawarkan model produktif yang memanfaatkan lahan mati seperti area bekas tempat sampah, beton, hingga sisa keramik untuk diubah menjadi aset hijau yang sehat. Melalui prinsip nol pestisida (zero pesticide) dan pemulihan mikroba tanah, kita tidak hanya menyediakan pangan sehat, tetapi juga mengelola 50-60% sampah organik rumah tangga langsung di sumbernya untuk diolah menjadi kompos atau pupuk cair. Ini adalah implementasi nyata ekonomi sirkular yang zero waste,” ungkap Prof. Suryo.


Foto kondisi lahan sebelum dan sesudah dilakukan penataan urban farming pada kawasan KWT Sejahtera
Pertanian Ekologis dan Zero Pesticide
Keutamaan dari Urban Farming yang dilakukan yaitu Pertanian Ekologis dan Zero Pestisida sehingga semua proses dilakukan tanpa bahan-bahan kimia dan keseluruhan dilakukan secara organik mulai dari pengolahan tanah hingga ke pemeliharaan, petani diajarkan sejak awal cara mengolah tanah, di mana pada enam lokasi demplot memiliki karakteristik tanah berbeda-beda, mulai dari bekas keramik, lahan beton, hingga lahan yang semula tempat sampah. Petani pun diajarkan cara pembuatan bioecoenzym, kompos, dan pupuk organik cair sebagai upaya dari pemeliharaan tanaman. Proses pengendalian hama pun tak terlepas dari pengendalian secara organik menggunakan pestisida hayati, pemanfaatan musuh alami, dan tanaman refugia. Peneliti Fakultas Pertanian IPB University Wanda Russianzi menambahkan praktik pertanian kota berbasis pengelolaan alami juga berdampak pada kualitas hasil panen. Sayuran yang dihasilkan dari kebun komunitas dengan kompos dan agen hayati dinilai lebih segar, cerah, dan bebas residu.

Hasil tanaman pada salah satu lokasi demplot yaitu pada area Jati Jajar
Inovasi Teknologi: Dari AWS hingga Pemupukan Presisi
Penelitian ini mengintegrasikan teknologi Automatic Weather Station (AWS) untuk memantau cuaca mikro secara real-time. Penggunaan AWS memungkinkan petani menentukan waktu tanam, penyiraman, dan pemupukan presisi dengan tingkat akurasi tinggi. Selain itu, riset ini mengedepankan penggunaan agens hayati dan pestisida nabati guna memastikan ekosistem tanah tetap terjaga tanpa polusi kimia.


Pemasangan AWS di lokasi demplot
Penyerap Emisi dan Penurun Suhu Udara
Berbeda dengan sektor pertanian konvensional yang sering dianggap kontributor gas rumah kaca, hasil riset FMIPA IPB University yang dipimpin oleh Dr. Idung Risdiyanto menunjukkan hasil sebaliknya. Pertanian kota yang dikelola secara alami justru berperan sebagai penyerap emisi. Data pengukuran 2024–2025 di lokasi demplot menunjukkan penurunan Diurnal Temperature Range (DTR) yang signifikan. Hal ini membuktikan bahwa keberadaan kebun komunitas berkontribusi langsung pada penurunan suhu udara di sekitarnya dan memperbaiki kualitas termal lingkungan, yang berdampak positif pada penurunan risiko kesehatan warga perkotaan.
Dampak Nyata bagi Masyarakat dan Kemandirian Ekonomi
Program ini tidak hanya memberikan data ilmiah, tetapi juga perubahan nyata pada kapasitas kelompok tani:
- Peningkatan Kapasitas: Berdasarkan hasil pre-test dan post-test, pengetahuan petani meningkat tajam setelah mendapatkan pendampingan teknis mulai dari pengolahan lahan hingga analisis usaha tani.
- Pemberdayaan: Tokoh lokal seperti Ratna, Ketua KWT Sejahtera 09 Beji, mengakui bahwa kelompoknya kini mampu mengolah lahan secara mandiri dan mengintegrasikan budidaya dengan pengolahan sampah organik menggunakan maggot.
Rekomendasi Kebijakan dan Keberlanjutan
Ketua Program Rikolto, Nonie Kaban, dan Koordinator Nasional Indonesia Berseru, Tejo Wahyu Jatmiko, mendorong pemerintah kota untuk menjadikan data ini sebagai basis pengambilan kebijakan. Rekomendasi utama mencakup:
- Kepastian Lahan: Menjamin keberlanjutan lahan komunitas agar investasi perbaikan kualitas tanah yang telah dilakukan tidak sia-sia.
- Komoditas Bernilai Tinggi: Mendorong penanaman tanaman ekonomi tinggi seperti kailan, edamame, dan cabai.
- Kemandirian Pupuk: Memperluas pengolahan sampah organik kota sebagai sumber pupuk alami untuk mendukung kemandirian petani kota.
Hasil riset selama dua setengah tahun ini diharapkan menjadi rujukan global bagi pembangunan kota yang tangguh iklim, mandiri pangan, dan berkelanjutan..