Faperta IPB

Copy of DSC_0452

Orasi Ilmiah Guru Besar IPB: Pekarangan Kampung Untuk Ketahanan Pangan

NEWS

Orasi Ilmiah Guru Besar IPB: Pekarangan Kampung Untuk Ketahanan Pangan

[boc_heading html_element=”h5″]Orasi Ilmiah Guru Besar IPB: Pekarangan Kampung Untuk Ketahanan Pangan [/boc_heading]

Pekarangan sangat potensial untuk menghasilkan sumber pangan yang beragam. Jika setiap keluarga memiliki ketahanan pangan yang baik, maka dalam Rukun Tetangga (RT) atau Rukun Warga (RW) tersebut diharapkan memiliki ketahanan pangan yang baik pula. Begitu dipaparkan oleh Pakar Arsitektur Lanskap IPB yang juga Kepala Bagian Manajemen Lanskap, Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian IPB, Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin pada acara coffe morning (13/12) di Kampus IPB Dramaga, Bogor.

 

“Analoginya, demikian pula untuk tingkat desa atau kelurahan, kecamatan, kabupaten, dan kota hingga ketahanan pangan pada tingkat provinsi, dan akhirnya akan mendukung ketahanan pangan pada tingkat nasional. Prinsip optimalisasi pemanfaatan pekarangan baik di pedesaan maupun di perkotaan adalah bagaimana mengelola pekarangan dengan baik agar dapat dijadikan tempat budidaya tanaman, ternak, dan ikan.” ujar Prof Hadi.

Ia menagatakan, hal ini adalah salah satu usaha untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas memperoleh pangan yang beragam, bergizi, dan berimbang (3B) serta aman.

“Kita ketahui untuk mencapai PPH ideal pada tahun 2014 masih perlu ditingkatkan konsumsi masyarakat pada umbi-umbian, kacang-kacangan, sayuran, buah, dan pangan hewani. Pekarangan sangat potensial untuk diusahakan dan didorong untuk menghasilkan produk pangan terutama buah dan sayuran,” tambahnya.

Ia menjelaskan tentang model “Desa Mandiri Pangan” memanfaatkan pekarangan dan produk-produk pangan berbasis sumberdaya lokal  serta program Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP), berbasis sumberdaya lokal. Langkah operasional untuk upaya kebijakan di atas adalah selain melakukan kampanye, sosialisasi, advokasi, dan promosi P2KP yang beragam, bergizi dan berimbang, serta aman berbasis sumberdaya lokal. Selain juga pentingnya pendidikan konsumsi pangan, penyuluhan kepada ibu rumah tangga dan Kelompok Wanita Tani (KWT).

Menurutnya, keberlanjutan pekarangan perlu didukung oleh ketersediaan bibit dan benih melalui pengembangan kebun bibit desa dan dukungan koperasi serta penyuluhan yang berkelanjutan. (man – Pariwara IPB / Desember 2013 / vol.31)

Document

[boc_img_gallery columns=”2″ fixed_size=”yes” image_ids=”26089″]