PHT (Pengendalian Hama Terpadu) Bio Intensif: Pendekatan Baru dalam Perlindungan Tanaman

 

“Pengendalian hama dan penyakit tanaman pada prosesnya bukan seperti halnya pemadam kebakaran, artinya jika api sudah besar lalu baru dipadamkan. Pengendalian hama dan penyakit tanaman dimulai dari perencanaan.” 

Departemen Proteksi Tanaman (PTN) saat ini dan dalam perkembangan 20 tahun kedepan  sudah banyak menemukan berbagai hama dan penyakit tanaman baru. Di PTN sendiri  paling tidak ditemukan sekitar 19 hama dan penyakit. Hampir 90% penemuan hama dan penyakit banyak ditemukan peneliti (IPB) Institut Pertanian Bogor khususnya di PTN, hama dan penyakit tersebut ditemukan pada tanaman pertanian dan perkebunan. Hal ini tentunya menjadi tantangan dalam mewujudkan keamanan dan ketahanan pangan dari ganguan penyakit.

Saat ini, Departemen Proteksi Tanaman sudah mengembangkan konsepsi Pengendalian Hama Terpadu (PHT Biointesif). PHT Biointensif merupakan sistem pengendalian hama dan penyakit yang mengedepankan pengendalian alami hayati dan pemahaman secara menyeluruh terhadap bioekologi hama/patogen. PHT biointensif meliputi penyehatan tanaman dan penyehatan lingkungan.

Ketua Departemen PTN Dr.Ir. Suryo Wiyono, M.Sc.Agr, mengatakan “PHT Biointensif mendesain langkah-langkah untuk terhindar dari hama, dan jika tanaman  terserang penyakit tidak akan begitu parah. Apa penyebabnya, dan bagaimana agar tanaman terhindar dari berbagai hama dan penyakit pada musim tanam atau periode tumbuh tanaman, Jelasnya.” Salah satu contoh adalah ledakan hama wereng cokelat, ledakan hama wereng pemicunya bisa terjadi karena hampir 70% petani padi di Indonesia menggunakan pestisida yang salah dan bukan peruntukan untuk padi, sehingga ketahanan tanaman akan berkurang. Jika hama dimusnahkan dan mati, maka sebetulnya akan menjadi semakin besar, hama akan beranak pinak. Selain itu, penanaman padi yang terus menerus turut andil besar kemungkinan terjadinya ledakan hama dan penyakit.

Sama halnya dengan penanaman cabai dan bawang secara akumulatif antara musim tanam dan musim panen, jika proses tanam terlalu cepat kemudian proses biologinya belum baik maka pertumbuhan ekosistem seperti komunitas serangga, arthropoda dan predator lainnya akan timbul, kerusakan akan bertambah apabila penggunaan herbisida dan pestisida masih terus dilakukan.

Penyebarluasan PHT BioIntensif

Teknologi PHT biointensif sudah diterapkan efektif pada 23 titik di Pulau Jawa yang merupakan bukti nyata dari mitra petani kerjasama antara jaringan kelompok petani dan mitra klinik tanaman. Dengan adanya PHT Biointensif yang sudah diterapkan di lapangan melalui penyehatan lingkungan dan penyehatan tanaman, termasuk melalui  proses pemilihan bibit, pemupukan dan bio imunisasi. Salah satu cara untuk menyehatkan lingkungan tentunya bagaimana bisa menyehatkan mikrorganisme, dalam artian jika ada serangan hama bisa cepat dikendalikan dengan menggunakan bahan organik dan menghindari pestisida. Tentunya hal ini tidak mudah,  hal ini secara teori terlihat mudah tetapi sulit untuk dilakukan. Hampir sebagian petani Indonesia menggunakan pestisida yang akan membuat tanaman padi menjadi lemah dan tidak tahan terhadap penyakit.

“Hama penyakit itu muncul karena pengelolaan agroekosistem pertanian yang salah, bukan hanya penyebab, tetapi lebih melihat akibatnya. Jika tidak merubah paradigma berpikir untuk pembangunan terutama pertanian, penggunaan insektisida, pestisida dan fungisida, masalah hama dan penyakit akan semakin sulit diatasi. PHT Pengendalian Hama Terpadu Bio intensif melakukan pendekatan baru  yang memerlukan perubahan baru, cara berpikir dan bertindak dalam pertanian. Tutup Ketua Departemen PTN.”***

Tak hanya itu, disamping menyehatkan tanaman, bio intensif bisa menyehatkan lingkungan seperti musuh-musuh alami hama atau patogen di lahan yang bisa bekerja dengan baik. Kemudian tahapan berikutnya memberikan bahan organik, memberikan tanaman berbunga dan tanaman liar di sekitar lahan.

Tentunya di satu sisi mempunyai kesan buruk dibandingkan Penemuan hama dan penyakit di PTN mempunyai kesan buruk, dibandingkan penemuan varietas terkadang juga menimbulkan ini di apresiasi dengan buruk, disatu sisi banyak yang mengapresiasi disatu sisi banyak terjadi kontroversi. Berbeda dengan penemuan bibit varietas unggul yang selalu diapresiasi dengan baik dan lain halnya dengan penemuan hama dan penyakit yang mempunyai kesan buruk.

Pengendalian hama penyakit pada tanaman merupakan salah satu peran penting dalam perkembangan pertanian. Mengingat bahwa pengendalian hama penyakit untuk sebagian orang awam seolah-olah seperti pemadam kebakaran, jika tanaman terkena penyakit, langsung dengan cepat dibasmi dan dimusnahkan. Padahal tidak demikian.

Pengendalian proteksi tanaman sudah menjadi konsep teknologi melalui PHT (Pengendalian Hama Terpadu)

Kemudian dalam mengembangkan sistem teknologi dan pengendalian tanaman, perlu adanya PHT bio intensif terkait konsep yang mengoptimalkan sumber daya hayati dan alami dan juga didasari pada pemahaman yang utuh terhadap bio ekologi hama beserta ekosistem.

Seperti halnya sistem teknologi. Kembali kepada paradigma orang berfikir bahwa pengendalian hama bukan seperti pemadam kebakaran. Sistem PHT Bioitensif telah mempersiapakan bagaimana tahapan pengendalian diawali dari sistem budidaya, kemudian pemulihan varietas, pemupukan dan pemilihan lokasi, waktu tanam. Tahapan tersebut akan meminimalisir munculnya hama penyakit yang bisa dikendalikan.

Pengendalian pengembangan teknologi hama penyakit seperti padi sudah teruji di berbagai tempat di 6 lokasi di pulau Jawa, hasilnya cukup baik dan produktifitasnya meningkat. Seperti  saat ini di Jawa Barat Subang, Indramayu, Jawa timur Tuban dan Nganjuk mulai terjadi ledakan hama wereng, begitu juga terjadi di Kalimantan dan Sumatera. Mengapa hal ini terjadi ledakan hama, karena hampir 70% petani padi indonesia menggunakan pestisida yang salah, bukan peruntukan untuk padi dan bisa memicu resistensi (ketahanan). Jika hama disemprot dan mati, maka akan menjadi semakin besar, mereka akan beranak pinak dan musuh alaminya mati.

Aktifitas penanaman padi saat ini, sedang menggencarkan penanaman padi sesering mungkin, maksimal 4 kali dalam satu tahun. Secara akumulatif menanam padi dalam kurun waktu 4 kali memungkinkan antara musim tanam dan musim panen menjadi tidak ada jeda.  Jika proses tanam terlalu cepat, kemudian proses biologinya belum baik, maka pertumbuhan ekosistem mikroba dan komunitas serangga, arthropoda dan predator lainnya akan meledak. Kerusakan akan bertambah apabila penggunaan herbisida, pestisida sekitar 70% pada tanaman padi.

Sebagai contoh, padi IPB3S yakni salah satu varietas  dengan PHT biointensif yang digunakan melalui pendekatan yang tidak terlalu rentan dengan penyakit hama. IPB3S adalah varietas Moderately resistance, yakni semacam resistensi sedang terhadap wereng cokelat, yang cukup tahan terhadap serangan.

Penggunaan PHT Biointensif

PHT Biointensif, sudah diterapkan di lapangan melalui penyehatan lingkungan dan penyehatan tanaman, kunci dari dua penyehatan tanaman tersebut termasuk melalui  proses pemilihan varietas, pemupukan dan bioimunisasi.

Untuk penyehatan lingkungan, tentunya bagaimana bisa menyehatkan mikrorganisme, dalam artian jika ada serangan hama bisa cepat dikendalikan dengan menggunakan bahan organik dan menghindari pestisida. Tentunya hal ini tidak mudah,  hal ini secara teori terlihat mudah dan sulit untuk dilakukan. Hampir sebagian petani Indonesia menggunakan pestisida akan memacu tanaman padi menjadi lemah dan tidak tahan terhadap penyakit.

Penggunaan PHT biointensif sudah menjadi perdebatan panjang, hal ini bisa dibuktikan ketika di lapangan, bukti nyata dari mitra petani yang sudah menerapkan 23 titik di Pulau Jawa dan Madura. Kegiatan penerapan tersebut menyesuaikan kondisi petani, dimana kerjasama  antara jaringan kelompok petani dan petani nusantara, teknologi PHT biointensif sudah menyebar efektif pada 23 titik di Pulau Jawa dan Madura.

Model PHT biointensif akan sulit diterima oleh berbagai kalangan, karena komponennya untuk padi akan meminimalisir penggunaan pestisida, jika ada pemikiran mainstream bahwa PHT biointensif menghambat laju perkembangan pada unit bisnis, tentunya di dalam keilmuwan PHT biointensif sama halnya dengan  pemikiran, inovasi dan ilmu di perguruan tinggi menjadi tidak kreatif dan inovatif.

“Hama penyakit itu muncul karena pengelolaan agroekosistem pertanian yang salah, hama penyakit muncul karena bukan sebab, tetapi akibat,” Tegasnya. Jika tidak merubah paradigma berpikir untuk pembangunan pertanian terutama pada hama dan penyakit serta penggunaan insektisida, pestisida dan fungisida secara berlebihan kemudian pada masa tanam yang terlalu cepat akan semakin parah dan tidak berkembang.***