All for Joomla All for Webmasters

Teknologi budidaya padi yang prospektif untuk peningkatan produktivitas lahan sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan konsumsi beras nasional. Salah satu terobosan teknologi baru yang dikembangkan IPB University berkolaborasi dengan Balai Besar Tanaman Padi (BB Padi) adalah Teknologi Budidaya Multi-kanopi. Teknologi Multi-kanopi diuji terap Tim Peneliti IPB bersama mitra riset BB Padi dan BPTP Kalimantan Tengah di Dramaga Kabupaten Bogor, Sukamandi Kabupaten Subang, dan food estate Belanti Siam Kabupaten Pulang Pisau Kalimantan Tengah. Riset ini didukung skema Prioritas Riset Nasional (PRN) dari Direktorat Sumberdaya, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Pengenalan teknologi baru Multi-kanopi padi dilakukan para Peneliti yang diketua Dr Ahmad Junaedi dari Departemen Agronomi dan Hortikultura Faperta IPB kepada para peneliti dan petani berlokasi di BB Padi Sukamandi, Selasa 21 Desember 2021.

Kepala LPPM IPB, Dr Ernan Rustiadi dalam sambutannya mengemukan pentingnya upaya intensifikasi menjadi salah satu strategi peningkatan produktivitas padi nasional. Hal ini paling tidak didasarkan atas pengalaman empiris bahwa masih terdapat selisih produktivitas yang tinggi antara potensi hasil varietas padi dengan capaian riil di tingkat petani. “Masalah terbatasnya lahan produktif sawah dan dinamika alih fungsinya juga menuntut diterapkannya teknologi terobosan peningkatan produktivitas dari lahan yang tersedia. Teknologi Multi-kanopi merupakan salah satu terobosan teknologi yang bisa menjadi solusi. IPB University terus berkomitmen untuk berkontribusi pada pengembangan teknologi memecahkan persoalan produksi beras nasional”, kata Ernan. Sementara itu, Kepala BB Padi, Dr Yudi Sastro sangat mengapresiasi sinergi riset BB Padi bersama IPB dalam pengembangan teknologi padi. “BB Padi, atau bentuk transformasi kelembagaan barunya, tetap konsisten untuk kontribusi menghasilkan varietas unggul padi dan teknologi produksinya bagi kepentingan pemenuhan komoditas strategis beras nasional. Kolaborasi, salah satunya dengan IPB University sangat penting untuk sinergi meningkatkan kualitas riset dan kemanfaatannya” sambut Yudi.

Budidaya padi sitem multi-kanopi merupakan ide orisinal Dr Hajrial Aswinnoor, inventor kebanggaan IPB dari Divisi Genetika dan Pemuliaan Tanaman, Departemen Agronomi dan Hortikultura (AGH) Faperta IPB, yang bersama mahasiswa Pascasarjana IPB University bimbingannya telah mendapatkan pengakuan dengan dua publikasi internasional bereputasi Q1. “Ide dasarnya adalah, bagaimana mengembangkan teknologi untuk bisa menambah panen dengan memanfaatkan ruang tumbuh ke arah langit atau secara vertikal. Kami sedang progress mengembangkan genotipe yang cocok untuk budadaya multi-kanopi, juga untuk padi yang tinggi kandungan menirnya”, urai Hajrial. Pengembangan teknologi ini dalam penerapan agronominya dilakukan oleh tim riset yang diketuai Dr Ahmad Junaedi bersama Dr Iskandar Lubis dan Dr Heni Purnamawati dari Divisi Produksi Tanaman AGH. Tim riset ini juga diperkuat oleh Prof Lilik Budi Prasetyo dan Tim untuk observasi dan analisis spektra dengan drone dan spektrofotoradiometer. Sementara riset di area food estate bermitra dengan Dr Susilawati dari BPTP Kalimantan Tengah. Junaedi dan tim merancang sistem budidaya optimasi ruang tumbuh vertikal (multi-kanopi) dengan mengkombinasikan penanaman padi dua varietas yang memiliki strata ketinggian tajuk yang berbeda dan kompatibel yang diindikasikan dengan nilai nisbah kesetaraan lahan (land equivalent ratio) pada sistem multi-kanopi yang lebih besar dari sistem pertanaman varietas tunggal (monokultur).

Pada acara Temu Lapangan, petani dan peneliti antusias mendiskusikan bagaimana teknologi baru ini bisa dirancang dengan baik dan bisa diterapkan oleh petani. Bagaimana pemilihan kombinasi varietas yang sesuai, sangat penting untuk konsekuensi agronomi dari menetapkan jarak dan sistem tanam, pemupukan, pengendalian gulma, pengendalian hama penyakit, hingga mutu hasil olahan berasnya. Pak Jepri, salah seorang petani mengkhawatirkan adanya campuran 2 jenis gabah hasil panen multi-kanopi akan dihargai lebih rendah oleh tengkulak. Sementara, Dr Suprihanto, Koordinator Peneliti Hama Penyakit menyampaikan pengalaman dengan budidaya varietas campuran, ternyata bisa memperlambat terbentuknya varian ras baru hama dan penyakit. “Yang paling penting, apa pun teknologinya, harus bisa memberikan keuntungan dan kesejahteraan yang baik bagi petani”, harapan Pak Tarya menyuarakan aspirasi para petani. (Kontributor: AJU, MRR, ….).

Leave A Comment

Translate »