All for Joomla All for Webmasters

Produktivitas hasil panen padi petani sebesar 5 ton gabah kering giling (GKG), mengalami stagnasi sejak kurun waktu 10 tahun terakhir. Hal Ini disebabkan salah satunya oleh  tidak optimalnya penggunaan  pupuk sintetis dan  dan  penggunaan pestisida semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Gilirannya kondisi tanah yang miskin bahan organik, kesuburan semakin berkurang karena kehilangan unsur hara. Persoalaan bertambah runyam penggunaan pupuk sintetis yang tidak sesuai kebutuhan selain membuat produktivitas tidak optimum, juga tanaman rentan  terhadap hama dan penyakit.  Secara makro,  beban fiskal akibat menanggung subsidi pupuk Rp 25,3 triliun di APBN 2021.

Melihat kompleksitas persoalaan ini, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) University berkolaborasi dengan PT Prima Agro Tech, produsen penyedia solusi berbasis mikroba pertanian mengembangkan penelitian Sustainable Bio Precision Rice Farming atau teknologi bio pertanian presisi.

Dekan Fakultas Pertanian IPB University Dr Sugiyanta menuturkan teknologi bio pertanian presisi sebagai terobosan peningkatan produktivitas, efisiensi biaya produksi dan ramah lingkungan berkelanjutan. Teknologi ini terdiri dari kombinasi penggunaan mikroba bermanfaat (beneficial microbes) dan optimasi penggunaan pupuk sintetis, pembenah tanah, serta pemanfaatan pestisida biologi dalam pencegahan dan pengendalian hama penyakit.

Menurut Sugiyanta, penelitan yang dilakukan mulai awal tahun 2021 ini menggunakan perbandingan penggunaan benih padi Inpari 31 dan 32 dengan PB3S yang ditanam seluas 1 hektar (ha) berhasil meningkatkan produktivitas padi sebesar 9 ton gabah kering panen (GKP) atau setara 7,2 ton. Tentunya, pencapaian produksi itu lebih besar dari produktivitas padi nasional sebesar 5,12 ton GKG.

“Penggunakan pupuk sintetis tetap harus diberikan. Tapi tidak terlalu banyak,” ujar Sugiyanta usai panen padi dari demplot di Desa Balonggandu, Jatisari, Karawang, Jawa Barat, Kamis (5/8/2021).

Sugiyanta menambahkan, teknologi pertanian presisi bukan semata mata menekankan peningkatan produktivitas hasil panen. Peningkatan pendapatan petani yang diikuti pula perbaikan kualitas dan turunnya biaya sarana produksi usahatani menjadi kata kunci.

Dr Suryo Wiyono, Ketua Tim Penelitian yang juga Wakil Dekan Fakultas Pertanian IPB University mengatakan peningkatan produktivitas panen padi di lahan uji coba ini tidak terlepas dari peran mikroba bermanfaat yang masing masing memiliki fungsi berbeda, yaitu 1) mikroba dekomposer sebagai pengurai bahan organik; 2) Mikroba pupuk hayati yang mengikat nitrogen, melarutkan fosfat dan produksi fitohormon; 3) Mikroba agens pengendali hayati hama dan penyakit. Peneliti mampu mengidentifikasikan masing-masing mikroba yang diyakini efektif dan aman.

Penelitian teknologi bio presisi padi berlangsung selama dua musim tanam dari tahun 2021 hingga 2022 yang berlokasi di lima sentra budidaya padi, yakni Jawa Barat (Karawang & Subang), Jawa Tengah (Klaten) dan Jawa Timur (Bojonegoro dan Ngawi) serta di stasiun lapang penelitian IPB.

Direktur Riset dan Marketing PT Prima Agro Tech Gunawan Sutio mengatakan, penelitian pertanian  bio presisi tanaman padi menekankan formula kebutuhan tanah dan pengendalian hama penyakit membutuhkan inovasi baru. “Intinya petani tidak akan mengadopsi apabila biaya input sarana produksi yang lebih mahal. Kita memberikan solusi komponen yang lengkap yang ramah lingkungan,” ujar Gunawan.

Inovasi teknologi harus mampu menekan biaya input produksi atau paling tidak setara yang dikeluarkan petani. Untuk optimasi pupuk berpeluang menekan biaya produksi hingga 33%. Bio pestisida presisi, sambung Gunawan, bukan hanya menekankan presisi volume pemberian mikroba namun juga ketepatan  waktu pengaplikasiannya. Penekanannya lebih kepada upaya preventif pengendalian hama dan patoge.

Khusus daerah endemik mengalami Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), timpal Sugiyanta, harus dipetakan profil hamanya. Langkah penyehatan ekosistem secara bertahap dengan memperbesar jumlah mikro organisme yang berfungsi menjadi predator terhadap hama tanaman. “Tidak bisa menggunakan pestisida kimia. Ibarat menggunakan bensin. Nanti terbakar semua,” pungkas Sugiyanta.

 

Leave A Comment

Translate »