PHT (Pengendalian Hama Terpadu) Bio Intensif: Pendekatan Baru dalam Perlindungan Tanaman

 

“Pengendalian hama dan penyakit tanaman pada prosesnya bukan seperti halnya pemadam kebakaran, artinya jika api sudah besar lalu baru dipadamkan. Pengendalian hama dan penyakit tanaman dimulai dari perencanaan.” 

Departemen Proteksi Tanaman (PTN) saat ini dan dalam perkembangan 20 tahun kedepan  sudah banyak menemukan berbagai hama dan penyakit tanaman baru. Di PTN sendiri  paling tidak ditemukan sekitar 19 hama dan penyakit. Hampir 90% penemuan hama dan penyakit banyak ditemukan peneliti (IPB) Institut Pertanian Bogor khususnya di PTN, hama dan penyakit tersebut ditemukan pada tanaman pertanian dan perkebunan. Hal ini tentunya menjadi tantangan dalam mewujudkan keamanan dan ketahanan pangan dari ganguan penyakit.

Saat ini, Departemen Proteksi Tanaman sudah mengembangkan konsepsi Pengendalian Hama Terpadu (PHT Biointesif). PHT Biointensif merupakan sistem pengendalian hama dan penyakit yang mengedepankan pengendalian alami hayati dan pemahaman secara menyeluruh terhadap bioekologi hama/patogen. PHT biointensif meliputi penyehatan tanaman dan penyehatan lingkungan. Continue reading “PHT (Pengendalian Hama Terpadu) Bio Intensif: Pendekatan Baru dalam Perlindungan Tanaman”

KELAPA SAWIT : BENARKAH RAKUS AIR ?

Dr. Ir. Dwi Putro Tejo Baskoro, M.Sc.Agr

Dosen Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan,

Divisi konservasi Tanah dan Air

Fakultas Pertanian, IPB

Sampai saat sekarang ini pengembangan sektor pertanian masih merupakan salah satu program utama pembangunan ekonomi Indonesia, karena menyangkut sebagian besar hajat hidup rakyat Indonesia.Subsektor yang berperan penting dalam pembangunan sektor pertanian adalah perkebunan dengan salah satu komoditas andalannya adalah kelapa sawit.Kelapa sawit merupakan komoditas andalan dan menjadi primadona di Indonesia karena telah memberikan dampak ekonomi luar biasa baik bagi rakyat maupun bagi pemerintah.

Belakangan ini, pengembangan kelapa sawit banyak mengalami tantangan terutama terkait dengan isu kerusakan lingkungan yang ditimbulkannya. Kelapa sawit dianggap sebagai tanaman yang rakus air sehingga pengembangan kelapa sawit dapat menyebabkan kerusakan tata air di suatu wilayah. Terdapat anggapan bahwa perusahaan berbasis kelapa sawit banyak memiliki andil dalam pemborosan air untuk menghidupi perkebunannya. Makin banyaknya perkebunan kelapa sawit dipandang sebagai ancaman bagi ketersediaan air di suatu wilayah. Akibat keberadaan perkebunan kelapa sawit, ketersediaan air (di mata air maupun sungai) di wilayah tersebut semakin berkurang. Isu itu merebak sedemikian rupa sehingga masyarakat pun bahkan kerap diimbau untuk tidak menanam kelapa sawit. Kalangan penggiat perlindungan lingkungan hidup pun ikut juga mengingatkan tentang “bahaya” nya sawit: pengembangan kelapa sawit akan mengubah lahan hijau yang subur, jutaan hektar, menjadi gurun tandus, nanti ketika usia hidup sawit (setelah replanting) berakhir. Continue reading “KELAPA SAWIT : BENARKAH RAKUS AIR ?”

Bunga kelelawar hitam : Tanaman Obat nan Eksentrik

Selain memiliki manfaat sebagai sumber bahan obatobatan, tanaman bunga kelelawar memiliki nilai estetika tinggi karena bentuk bunganya yang unik dan langka

BULETIN FAPERTA ­­­­­­– Tampilannya cantik, besar nan rupawan, sekilas menyerupai kelelawar. Warna yang muncul perpaduan antara hitam, ungu, hijau dan kecokelat-cokelatan, memukau. Ya, bunga kelelawar atau disebut (bat flower,Taccachantrieri Andre, Taccaceae) adalah spesies Tacca yang banyak ditemui di hutan hujan tropis Asia Tenggara.

Bat flower merupakan tanaman tropis tahunan, anggota Taccaceae yang memiliki kandungan rizom T. Chantrieri ini telah digunakan sebagai obat tradisional di Tiongkok (baca: Jiang Su New Medical College, 1997) dan Thailand (Wutthithamawet, 1997). Hal ini dikemukakan dari  hasil evaluasi tanaman Taccachantrierise bagai tanaman hias pot yang di awali oleh Dr. Ir. Krisantini, Msc tahun 2014, kemudian dilanjutkan oleh Dr. Ir. Ni Made Armini Wiendi, M.S. tahun 2015 untuk perbanyakan secara kultur jaringan di lab kultur jaringan 2, Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB. Continue reading “Bunga kelelawar hitam : Tanaman Obat nan Eksentrik”

Sanksi Menyelundupkan Benih dan Bibit Impor Tanpa Izin

Demi keamanan dan antisipasi impor luar negeri khusunya pangan, perlu adanya pengawasan khusus dalam hal proses karantina, hal ini dikemukakan Kepala Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian, Banun Harpini dalam seminar Nasional “Pemeriksaan Karantina dalam rangka Keamanan Pangan yang Berkualitas dan Mendukung Kebijakan Dwelling Time” dilansir dalam berita online Agroindonesia.

Untuk mewujudkan ketahanan pangan, peran karantina berfungsi sebagai pencegahan masuknya berbagai ancaman penyakit tumbuhan yang telah ditemukan karantina, berupa 800 jenis organisme pengganggu tanaman karantina (OPTK) meliputi mikroba, bakteri, kapang, khamir, protozoa, virus, kritil dan sebagainya, sedangkan gangguan keamanan pangan dari bahan kimia adalah residu pestisida. Continue reading “Sanksi Menyelundupkan Benih dan Bibit Impor Tanpa Izin”

Mahasiswa IPB “EXPOSE” Wujudkan Cibinong Water Front City dan Sentul City Menuju Kota Ramah Air”

“Air sebagai sumber kehidupan, mari kita bersahabat dengan air, jaga air selalu bersama kita. Kita ramah terhadap air dan air pun akan selalu baik terhadap kita dan segala mahluk hidup lainnya.”

Dalam rangka menyajikan hasil kerja praktik Program EXPOSE mahasiswa S1 dan S2 mata kuliah pengelolaan lanskap, Departemen Arsitektur Lanksap (ARL) Fakultas Pertanian IPB  merespon saran dan rekomendasi atas usul yang dicanangkan Bupati Bogor Hj. Nurhayanti untuk mewujudkan Cibinong Water Front City dan Sentul City menuju kota ramah air.

Program EXPOSE kali ini langsung disampaikan di hadapan berbagai pemangku kepentingan  diantaranya forum akademisi, jajaran pimpinan Bappeda dan SKPD Kota Bogor, pengusaha swasta PT Sentul City Tbk, PT Olympic Sentul, PT Asabi Agricon, komunitas  Bogor Sahabats, Komunitas Peduli Ciliwung dan beberapa wartawan beserta LSM lainnya, di Ruang Serba Guna 1 Setda Kabupaten Bogor Cibinong, Senin 10 Juli 2017, kemarin. Continue reading “Mahasiswa IPB “EXPOSE” Wujudkan Cibinong Water Front City dan Sentul City Menuju Kota Ramah Air””

Promosi Faperta IPB melalui Pelayanan Kunjungan atau Wisata Kampus

Oleh :

Dr. Ir. Nurhayati, M.Sc

Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan

Fakultas Pertanian, IPB

 

Kampus merupakan suatu lanskap atau area yang didalamnya terdapat bangunan dan berbagai fasilitasnya beserta lingkungan atau area ruang terbukanya, tempat diselenggarakannya aktivitas pendidikan tinggi. Kualitas kampus mendukung citra universitas dan dapat menjadi wahana promosi universitas yang bersangkutan. IPB sejak tahun 2015 telah mencanangkan Gerakan Menuju Green Campus 2020. Gerakan ini sampai saat ini masih berproses melalui beberapa tahapan, mencakup program-program Green Transportation, Green Movement, Green Energy, hingga Green Building and Open space. IPB juga termasuk 10 Green Campus di Indonesia (peringkat 2 pada tahun 2014) menurut versi UI Greenmetrics. Jadi sudah selayaknya kampus IPB memang “green”, bersih, indah, dan nyaman.  Selain memberikan kenyamanan bagi sivitas akademika, kampus juga terbuka, mudah diakses, dan ramah kepada tamu/pengunjung, serta dilengkapi fasilitas yang memudahkan pengunjung untuk mendapatkan informasi.

Continue reading “Promosi Faperta IPB melalui Pelayanan Kunjungan atau Wisata Kampus”

Polemik PP Gambut, Tidak Pro Lahan Pertanian

Artikel Opini

Dr. Ir. Suwardi, M.Agr
Dosen Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian IPB
Himpunan Masyarakat Gambut Indonesia (HMGI)

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 57/2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Gambut menjadi sebuah polemik dan memperoleh kritikan dari masyarakat pengguna gambut, khususnya di kawasan budidaya. PP tersebut hanya mementingkan perlindungan gambut dan tidak mempertimbangkan pengelolaan gambut untuk budidaya. Padahal gambut sebagai sumberdaya alam mempunyai fungsi lindung dan sekaligus fungsi budidaya yang hendak diatur dalam PP.

Continue reading “Polemik PP Gambut, Tidak Pro Lahan Pertanian”