POTENSI DAN PRODUKSI SAGU DI INDONESIA

Prof Dr Ir H MH Bintoro, Magr

Tanaman sagu merupakan tanaman tropis yang menyebar di dataran rendah Asia Tenggara dan Malanesia, yang terletak antara lintang 10o LU dan 100 LS (Gambar 1), serta hingga ketinggian 700 m dpl (Flach et al 1986). Tanaman sagu menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, terutama tanaman sagu paling banyak menyebar di pulau Papua Barat dan Papua dengan luasan masing-masing yaitu 510.213 dan 4.749.424 Ha (Tabel 1) (Flach 1997; UP4B 2014).

Gambar 1. Sebaran sagu di dataran rendah Asia Tenggara dan Malanesia

Tabel 1. Sebaran Sagu di Indonesia

Daerah Luas (ha)
Maluku 60 000
Sulawesi 30 000
Kalimantan 20 000
Sumatera 30 000
Kepulauan Riau 20 000
Kepulauan Mentawai 10 000
Papua 4 749 424
Papua Barat 510 213
Lain-lain 150 000
Total 5 519 637

 

Wilayah distribusi luasan sagu di Provinsi Papua Barat (Tabel 2) Meliputi distrik Fakfak, Kaimana, Manokwari, Raja Ampat, Sorong, Sorong Selatan, Teluk Bintuni, dan Teluk Wondama dengan luasan masing-masing yaitu 34.485 Ha, 70.765 Ha, 5.868 Ha,  3.052 Ha, 148.004 Ha, 212.353 Ha, dan 5.672 Ha (UP4B 2014). Distribusi luasan sagu di Provinsi Papua (Tabel 3) meliputi distrik Asmat, Boven Digoel, Dogiyai, Intan Jaya, Jayapura, Mappi, Mamberamo raya, Merauke, Mimika, Nabire, Nduga, Puncak, Puncak Jaya, Sarmi, Tolikara, Waropen, dan Yahukimo dengan luasan massing-masing yaitu 949.959 Ha, 42.673Ha, 20.992 Ha, 109.725 Ha,  74.908 Ha, 818.178 Ha, 371.504 Ha, 1.232.151 Ha,  382.189 Ha, 219.362 Ha, 576 Ha, 59.809 Ha, 93.827 Ha, 144.321 Ha, 25.611 Ha, 152.509 Ha, dan 51.031 Ha.

Tabel 2. Distribusi sagu di Papua Barat

No Distrik Luas Sagu
ha %
1 Fakfak 34.485 6,8
2 Kaimana 70.765 13,9
3 Manokwari 5.868 1,2
4 Maybrat 0 0
5 Raja Ampat 3.052 0,6
6 Sorong 30.014 5,9
7 Sorong Selatan 148.004 29
8 Tambrauw 0 0
9 Teluk Bintuni 212.353 41,6
10 Teluk Wondama 5.672 1,1
11 Kota Sorong 0 0
Total 510.213 100

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 3. Sebaran sagu dii Papua

No Distrik Luas Sagu
ha %
1 Asmat 949.959 20,0
2 Biak Numfor 0 0
3 Boven Digoel 42.673 0,9
4 Dogiyai 20.992 0
5 Intan Jaya 109.725 2,3
6 Jayapura 74.908 1,6
7 Jayawijaya 0 0
8 Keerom 0 0
9 Kepulauan Yapen 0 0
10 Lanny Jaya 0 0
11 Mappi 818.178 17,2
12 Mamberamo Raya 371.504 7,8
13 Merauke 1.232.151 25,9
14 Mimika 382.189 8,0
15 Nabire 219.362 4,6
16 Nduga 576 0,01
17 Paniai 0 0
18 Pegunungan Bintang 0 0
19 Puncak 59.809 1,3
20 Puncak Jaya 93.827 2,0
21 Sarmi 144.321 3,0
22 Supiori 0 0
23 Tolikara 25.611 0,5
24 Waropen 152.509 3,2
25 Yahukimo 51.031 1,1
26 Yalimo 0 0
27 Kota Jayapura 0 0
Total 4.749.325 100

Potensi tanaman sagu

Tanaman sagu di Indonesia memiliki potensi besar seperti luasan yang sangat besar, sumber karbohidrat yang tinggi, produktivitas yang tinggi, dan dapat dijadikan berbagai macam produk turunan. Tanaman sagu di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia, karena lebih dari 85% total areal sagu dunia berada di Indonesia terutama di Papua dan Papua Barat. Papua dan Papua Barat merupakan daerah yang paling potensial, karena hanya perlu melakukan pemanenan dan penataan menjadi kebun sagu. Potensi lain yang mendukung keunggulan sagu yaitu sagu mengandung karbohidrat tinggi dengan kandungan pati kering 200-400 kg/ pohon dan jika dilakukan pemanenan dalam 1 ha akan menghasilkan 20-40 ton pati/ha/tahun. Produk pati dari sagu juga dapat dijadikan produk turunan ain seperti gula cair dan lain-lain.

Produksi pati sagu di Indonesia sangat besar dan beragam. Menurut Hengky et al (2016), produksi sagu di Kab. Kepulauan Meranti sebesar 135-355 kg/pohon. Sagu jenis Phara mampu memproduksi pati sebesar 975 kg/pohon. Menurut Dewi et al (2016) hutan sagu campuran di Sorng Selataan mampu memproduksi pati sebesar 38 ton/ha/tahun. Menurut Bintoro et al (2017) bahwa produksi pati di Kab. Mimika sebesar 14-26 ton/ha/tahun.

Sagu lebih unggul dari padi untuk memberi makan dunia. Sagu dalam satu hektar dapat menghasilkan 20-40 ton pati, jika dijumlahkkan dengan luas areal sagu sebesar 5 juta Ha akan menghasilkan 100-200 juta ton. Padi membutuhkan 12 juta hektar untuk menghasilkan 30 juta ton, sedangkan sagu menghasilkan  30 juta ton pati hanya dalam 1 juta ha. Kebun sagu dengan luasan 1 juta hektar memberi makan 200 juta jiwa, jika dalam 5 juta hektar sagu dapat memberi makan  1 milyar jiwa. Sagu dapat memenuhi kebutuhan orang yang kelaparan di dunia yang berjumlah 868 juta jiwa yang dilaporkan oleh FAO.

Pemanfataan sagu  bukan hanya sekedar  dijadikan pati (Gambar 2), banyak bentuk produk turunan sagu lain seperti glukosa, dextrin, protein sel tunggal, bubur kayu, dan ampas. Pemanfaatan pati  sagu dapat dijadikan beras analog, industri makanan, dan bahan baku industri. Glukosa dihasilkan oleh pemanfaatan pati dapat dimanfaatkan untuk dijadikan ethanol dan fruktosa dalam industri makanan dan minuman, selain itu glukosa dapat dijadikan asam organik unntuk industri kimia & farmasi dan energi. Sagu juga dimanfaatkan untuk menjadi dextriin  yang dimanfaatkan dalam industri kayu, kosmetik, farmasi, pestisida. Protein sel tunggal juga dapat dihasilkan oleh sagu untuk industri  makanan. Pemanfaatan sagu berupa bubur kayu dan ampas masing-masing dimanfaatkan untuk industri kertas & bahan bakar dan pembuatan pupuk, biogas, dan industri makanan ternak.

 

Gambar 2. Pemanfaatan sagu

 

Hutan sagu yang sangat potensial perlu ditata dengan menata jarak antar sagu dan membuat jalur panen untuk memudahkan pemanenan. Sagu ditata dengan jarak antar sagu sebedar 8 X 8 m. Jalur panen dibuat di sela-sela tanaman sagu dengan pengaturan yaitu jalur panen-pelepah kering-jalur panen (Gambar 3).

 

Gambar 3. Pengelolaan hutan sagu

 

Pengembangan sagu  sering mengalami kendala, jika sagu dilakukan penanaman pada lahan kosong. Kendala tersebut berupa waktu panen yang cukup lama, teknik budidaya sagu yang belum intensif, dan pengelolaan kebun belum maksimal. Semua kendala tersebut menghambat petani untuk mau melakukan budidaya tanaman sagu, karena saat menunggu panen yang terlalu lama mengaibatkan pendapatan petani menjadi tidak ada.

Kendala yang dialami petani pada awal penanaman sagu dapat diatasi dengan melakuakan sistem tumpang sari. Tumpang sari memberi manfaat berupa lapangan pekerjaan yang meningkat, pengelolaan kebun sagu yangintensif, sistem “ijon” pada kebun sagu masyarakat menurun, perambahan bakau menurun, pembukaan lahan dengan cara pembakaran menurun, dan penghasilan tambahan meningkat.

Budidaya tanaman sagu dengan sistem tumpang sari dapat dilakukan dengan beberapa tanaman, ikan, dan ternak yang akan meghasilkan profit yang cukup besar. Budidaya tumpang sari sagu dengan tanaman dapat dilakukan dengan menanam jagung manis, jagung semi, jagung pipil, cabai rawit, cabai merah besar, kangkung, dan semangka  dengan profit masing-masing sebesar Rp 2.774.400, Rp 4.368.000, Rp 2.995.230, Rp 7.200.000, Rp 2.625.000, Rp 540.000, dan Rp 490.000. Budidaya  sagu dan ikan dapat dilakukan dengan mebudidayakan ikan nila, patin, dan lele dengan profit masing-masing sebesar Rp 13.250.000, Rp 12.500.000, dan Rp 15.625.000. Sagu juga dapat dibudidayakan dengan ternak berupa magot BSF dengan profit Rp 2.060.000 dan itik petelur dengan profit Rp.9.000.000.

Sagu saat masih banyak terkendala permasalahan-permsalahan. Permasalahan tersebut diantaranya adalah (1) sagu belum ditentukan sebagai komoditi prioritas, (2) penanggung jawab komoditas sagu di lapangan Kementrian Pertanian atau Kementerian LHK, (3) infra struktur yang belum memadai seperti jalan, listrik, pelabuhan, dan lain-lain untuk mengakses tegakan sagu, (4) regulasi bagi investor yang tidak menggairahkan antara  lain HPH/HTI vs Hak Ulayat, saat panen harus minta izin lagi, perhitungan pajak berdasarkan total batang sagu bukan berdasarkan pati/tepung sagu yang dihasilkan, (5) peralatan prosesing yang digunakan petani sagu masih sangat sederhana, (6) air untuk prosesing masih seadanya di lapangan, (7) petani sagu menjual patii/tepung sagu basah yang mudah terjadi fermentasi, (8) jenis-jenis sagu unggul belum teridentifikasi secara menyeluruh dan tidak dimanfatkan secara maksimal dan berkelanjutan, dan kesadaran untuk pelestarian plasma nutfah sagu sangat rendah, sehingga banyak aksesi sagu yang belumdidaftarkan di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian-Kementan.

kesimpulan

Sagu merupakan tanaman yang memiliki potensi besar dan perlu diperhatikan. Swasembada (pangan, gula, dan energi) dan pemenuhan makanan bagi orang kelaparan di dunia mampu diwujudkan oleh Indonesia, jika potensi sagu dimanfaatkan dengan baik. Potensi produk turunan pati sagu yang beragam dan memiliki nilai ekonomi tinggi serta baik bagi kesehatan manusia.  Produksi pati  sagu Indonesia paling tinggi di dunia dan perlu manajemen pengelolaan hutan/kebun untuk keberlanjutan panen, sehingga perlu dukungan pemerintah terhadap sagu melalui regulasi mulai dari on farm dan off farm.

 

Daftar Pustaka

Bintoro HMH, Ahmad F, Nurulhaq MI, Pratama AJ. 2017. Identifikasi Sagu (Metroxylon spp.) di Kabupaten Mimika Provinsi Papua. Bogor(ID): Digreat Publishing

Dewi RK, Bintoro MH, Sudradjat. 2016. Karakter morfologi dan potensi produksi beberapa aksesi sagu (Metroxylon spp.) di Kabupaten Sorong Selatan. J. Agron. Indonesia. 44(1): 91-97.

Flach M. 1997. Sago Palm. Metroxylon sagu Rottb. Promoting the conservation and use of underutilizied and neglected crops. 13. Rome, Italy (IT): Institute of Plant Genetics and Crop Plant Research, Gatersleben International Plant Genetics Resources Institute.

Flach, M, Braber KD, fredrix MJJ,  Monster EM, Hasselt GAM. 1986. Temperature and relative humidity requirement of young sago palm seedlings, p. 139-143. In N. Yamada and K. Kainuma, (Eds.). The Third Int. Sago Symp. Tokyo-Japan. May 20-23. The Sago Palm Research Fund.

Novarianto H, Tulalo MA, Kumaunang J, Manaroinsong  E, Sulistyowati E. 2016. Seleksi dan pelepasan varietas Selatpanjang Meranti untuk pengembangan sagu. J. Metroxylon Indonesia. 1(1): 1-9.