Polinator dan Lebah Madu

Budi Tjahjono

Alumni Faperta IPB

Ada satu pernyataan menarik dari salah satu pembicara asal Thailand dalam konferensi perlebahan Asia (Jakarta, 22-25 Oktober 2018), bahwa mereka menghadapi masalah kelebihan produksi buah lengkeng.  Salah satu solusi yang dia tawarkan adalah dengan memanfaatkan daging buah lengkeng untuk pengganti gula sebagai alternatif sumber karbohidrat bagi lebah madu.  Masalah kelebihan produksi ini jarang sekali kita dengar kalau kita membicarakan pertanian di Indonesia. Demikian pula tentang lebah madu, jarang menjadi pembicaraan sebagai bagian yang penting dalam sistem pertanian di Indonesia.  Sementara itu, di negara-negara yang produksi pertaniannya melimpah seperti Amerika dan Thailand, lebah selain untuk produksi madu juga banyak dimanfaatkan sebagai penyerbuk (polinator) untuk meningkatkan produktivitas pertanian.  Oleh karena itu, saya disini akan mengingatkan kita semua tentang pentingnya peran polinator, khususnya lebah madu, dalam produksi pertanian.

Sebagai contoh sukses,  polinator yang paling terkenal dalam meningkatkan efisiensi biaya penyerbukan dan produktivitas perkebunan sawit di Indonesia dan Malaysia adalah kumbang Elaeidobius kamerunicus. Kumbang yang diintroduksi dari Afrika ini lebih berperan sebagai penyerbuk bagian dalam dari perbungaan, sedangkan yang berperan dalam penyerbukan bagian permukaan perbungaan adalah  beberapa jenis lebah lokal, terutama Apis spp. dan Trigona spp. Dua jenis keluarga lebah lokal ini saya kenal tanpa sengaja selama saya memimpin riset bidang proteksi tanaman  akasia dan ekaliptus di Riau. Saya jatuh cinta kepada serangga penyerbuk yang juga penghasil madu ini, mirip waktu dulu saya menyenangi rumput untuk lansekap dan lapangan olahraga (golf dan sepak bola). Banyak jenis lebah lokal yang memanfaatkan nektar ekstra floral yang dihasilkan oleh pohon akasia yang banyak ditanam di Riau dan Kalimantan untuk bahan baku industri pulp dan kertas.

Keragaman lebah di Indonesia luar biasa. Menurut Sih Kahono peneliti lebah dari LIPI, tak kurang dari 456 spesies yang sudah diketahui, baik yang termasuk serangga sosial maupun yang soliter. Ada sekitar 7 jenis lebah madu Apis spp. yang menyengat bila diganggu dan lebih dari 34 spesies lebah tanpa sengat (Apidae: Melliponinae). Orang umum mengenal lebah madu tanpa sengat ini (Trigona spp.) sebagai lanceng (Jawa), teuweul (Sunda),galo-galo (Palembang) atau kelulut (Melayu). Saya telah mengkoleksi beberapa jenis lebah madu tanpa sengat ini untuk studi penyerbukan dan dapat hasil sampingan berupa madu dan propolis untuk kesehatan.

Menariknya,  ada sekelompok orang Indonesia pecinta lebah tanpa sengat ini dan mengidentifikasikan kelompoknya secara informal dalam WA group dengan nama Komunitas Trigona Nusantara (KTN).   Ada lagi sekelompok orang Indonesia yang lebih banyak mendiskusikan jenis lebah madu Apis spp. disamping jenis lebah lainnya, dan mereka mengorganisir diri dalam suatu wadah formal yang bernama Asosiasi Perlebahan Indonesia (API). API ini menjadi anggota organisasi perlebahan di tingkat Asia (Asian Apiary Association) dan di tingkat dunia (APIMONDIA) yang secara periodik mengadakan konferensi perlebahan (gambar 1). Saya banyak belajar perlebahan sebagai anggota KTN dan API.

Gambar 1. Konferensi perlebahan Asia yang ke -14 di Jakarta, IPB menjadi salah satu sponsor

Gambar 2. Lebah Apis cerana; Gambar 3. Budidaya Lebah  A. cerana dalam kotak

2
3
1

 

 

 

Jenis lebah madu Apis yang paling banyak dibudidayakan dan digembalakan adalah lebah eropa (Apis mellifera)yang jinak dan sangat produktif, sedangkan lebah madu lokal (Apis cerana) hanya dibudidayakan secara terbatas dalam kotak-kotak di pekarangan atau kebun pedesaan (Gambar 2 dan 3). Sayangnya jenis Apis liar yang terbesar (Wild giant honey bee: Apis dorsata) dan menghasilkan banyak madu dalam sarang terbuka di atas pohon-pohon yang tinggi besar (Gambar 4) tidak bisa dibudidayakan.

 

Gambar 4.  Panen madu lebah raksasa (Apis dorsata) di pohon sialang yang tinggi besar dalam hutan Riau.

Peran lebah sebagai pollinator maupun penghasil madu akhir-akhir ini makin terancam dengan adanya perubahan habitat, illegal logging, kebakaran hutan, aplikasi pestisida yang berlebihan, serangan hama penyakit lebah, ataupun sistem panen madu yang tidak lestari / gangguan manusia. Pada waktu penulis baru pindah ke Riau, masih banyak menjumpai pohon sialang dengan  sarang lebah madu yang melimpah. Pengamatan saya dikonfirmasi oleh survey  Purnomo (Litbang Kehutanan, Kuok) pada tahun 2005/2006  yang mencatat lebih dari 2011 pohon sialang di Riau  dengan rata-rata 20 sarang lebah madu/pohon. Pengamatan kami satu dekade kemudian (2017/2018) di Riau menunjukkan penurunan populasi pohon sialang maupun jumlah sarang lebah/pohon, masing-masing sebesar 40% dan 60%.

Khawatir dan prihatin terhadap penurunan populasi lebah madu, saya menginisiasi terbentuknya Pusat Studi Polinasi dan Lebah Madu (PSPLM) di Universitas Islam Riau, dimana saya sejak pensiun dari IPB membantu   mengajar bidang proteksi tanaman.  Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya peran lebah dan proteksi habitatnya.  Kegiatannya antara lain penelitian tentang lebah dan perannya sebagai pollinator, pendidikan masyarakat terkait perlebahan yang lestari, pengkayaan tanaman pakan lebah, dan membantu peningkatan budidaya lebah sebagai pollinator maupun penghasil madu.  Semoga bermanfaat untuk masyarakat, ekonomi pertanian dan lingkungan.