AKANKAH SUNGAI CITARUM KEMBALI HARUM?

Suwardi

Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

 

Sungai Citarum merupakan sungai terpanjang dan terbesar di Provinsi Jawa Barat. Sungai tersebut memiliki panjang sekitar 300 km yang melintasi 10 Kabupaten dan 2 Kota. Wilayah-wilayah tersebut yaitu Kabupaten Cianjur, Bandung, Sumedang, Indramayu, Subang, Purwakarta, Karawang, Bekasi, Bandung Barat, Bogor, Kota Bandung, dan Kota Cimahi. Menurut Kementerian PUPR dalam Permen No.4/PRT/M/2015 dalam bbwscitarum.com, di dalam wilayah sungai (WS) Citarum terdapat 19 DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) dan banyak sub-sub DAS. Kesembilan belas DAS di WS Citarum antara lain DAS Citarum, Sedari, Cisaga, Cibadar Dua, Cibadak, Cikarokrok, Cibanteng, Cimalaya, Cigemari, Ciasem, Batangleuting, Cireungit, Cirandu, Cipunagara, Sewo, Sukamaju, Bugel, Cibodas, dan Cidongkol.

Wilayah sungai Citarum mempunyai luas 11,323.34 km2 atau 32.01% dari luas Provinsi Jawa Barat (35,374.38 km2). Sungai Citarum mempunyai peran yang sangat besar untuk kehidupan masyarakat Jawa Barat dan DKI Jakarta. Sekitar 35 juta masyarakat memanfaatkan air dari sungai Citarum. Beberapa peran dari Citarum adalah sebagai sumber air baku, irigasi pertanian, sumber bagi PLTA, dan pemasok air bagi kegiatan domestik dan industri. Menurut Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, potensi air di WS Citarum adalah 12.95 miliar m3/tahun. Sekitar 7.65 miliar m3/tahun dapat dikendalikan untuk dimanfaatkan dalam banyak bidang seperti air irigasi (86.7%), air baku (6%), industri (2%), municipal (0.3%), dan pemeliharaan (5%). Sisanya sebanyak 5.30 miliar m3/tahun tidak dapat dikendalikan dan langsung terbuang ke laut.

Di dalam WS Citarum terdapat tiga waduk besar, yaitu waduk Saguling, waduk Cirata, dan waduk Jatiluhur. Waduk Saguling berada di elevasi ± 643 mdpl dan menghasilkan tenaga listrik sekitar 750 MW (PT Indonesia Power). Waduk Cirata terletak di ketinggian 220 mdpl dan menghasilkan tenaga listrik sekitar 1,000 MW (PT. Pembangkit Jawa Bali), sedangkan waduk Jatiluhur berada di ketinggian sekitar 100 mdpl dan menghasilkan tenaga listrik 187.5 MW (PJT II). Peran dan potensi WS Citarum yang sangat besar tidak bisa maksimal dan bahkan terhambat oleh keadaan Citarum saat ini.

Sungai Citarum dinobatkan sebagai sungai terkotor di dunia. Hal tersebut dapat dilihat di lapangan bahwa sungai Citarum tercemar oleh limbah-limbah cair maupun padat. Terdapat beberapa sumber pencemaran sungai Citarum. Pertama,  limbah kotoran ternak. Sekitar 82.4 ton kotaran sapi dibuang ke situ Cisanti per harinya. Selain itu, di Kecamatan Pengalengan, Kertasari, dan Arjasari terdapat beberapa peternakan dengan lebih dari 27,000 ekor sapi dan masyarakat membuang kotoran sapi tersebut ke hulu sungai sebanyak 405 ton setiap hari. Kedua, limbah domestik. Menurut merdeka.com (18-02-2019), sekitar 60-70% limbah domestik mencemari perairan sungai Citarum. Ketiga, limbah industri. Masih banyak sekali limbah kegiatan industri yang langsung dibuang ke sungai Citarum tanpa adanya pengelolaan terlebih dahulu. Sebagai contoh, industri tekstil di Majalaya Kabupaten Bandung. Terdapat 600 industri tekstil di wilayah tersebut, namun yang menerapkan IPAL dengan baik hanya 10% saja. Hal yang sama juga terjadi di daerah industri lain seperti di Purwakarta, Karawang, dan Bekasi. Keempat, limbah pertanian. Selain tercemarnya sungai Citarum, terdapat hal lain yang menjadi masalah di sungai tersebut.

Isu-isu tersebut antara lain pertumbuhan penduduk menyebabkan peningkatan permintaan air untuk pertanian, rumah tangga, dan industri; kerusakan DAS akibat deforestasi, praktik pertanian, perumahan, dll; erosi dan sedimentasi; banjir dan kekeringan; degradasi tanah; serta adaptasi penataan kelembagaan di antaranya berbagi peran dan partisipasi stakeholder. Di dalam air sungai Citarum terkandung logam-logam berat yang melebihi ambang batas. Keadaan-keadaan tersebut membuat sungai Citarum menjadi hal penting yang membutuhkan perhatian dan penanganan secara serius.

Pada tahun 2018 lalu, dikeluarkan Peraturan Presidan RI Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum. Upaya penanganan sungai Citarum dilakukan oleh berbagai pihak yang terintegrasi. Bahkan anggota TNI diturunkan langsung untuk membantu mengatasi permasalahan di WS Citarum. Daerah hulu telah dilakukan konversi tanaman sayuran ke tanaman kopi yang dapat mengurangi erosi. Ribuan batang kopi Arabika telah ditanam menggantikan tanaman kubis, wortel, dan tanaman sayuran dataran tinggi lainnya.

Operasi penertiban pembuangan limbah yang berasal dari pabrik telah dilakukan intensif oleh TNI. Dengan komando vertikal, seluruh jajaran TNI memantau limbah pabrik. Pemilik pabrik dipaksa untuk mengolah limbahnya sebelum dibuang ke sungai. Tidak segan-segan TNI menyemen saluran buangan limbah ke sungai. Pembersihan limbah-limbah padat seperti sampah dibeberapa titik telah dilakukan bersama masyarakat.

Saat ini masyarakat sekitar sungai Citarum telah merasakan mulai membaiknya kualitas sungai Citarum. Jika upaya penanganan sungai Citarum tersebut dilakukan secara berkelanjutan, maka ‘Citarum Harum’ dapat dicapai dan dapat menjadi model bagi penanganan sungai-sungai di Indonesia.