Program Pengembangan Departemen Arsitektur Lanskap Lima Tahun Mendatang

Program Internasional dan Nasional disusun dalam rangka mendukung perencanaan dan perkembangan jangka panjang Departemen Arsitektur Lanskap untuk lima tahun mendatang.  Adapun program-program tersebut beberapa merupakan lanjutan dari program sebelumnya dan juga ada yang program baru.  Semua program tersebut  melibatkan seluruh civitas akademika baik dosen maupun mahasiswa di Departemen Arsitektur Lanskap.

PROGRAM INTERNASIONAL

  • Akreditasi Internasional dari IFLA
  • Double Degree dengan Chiba University sejak 2010 dan Kyoto University mulai 2017.
  • Joint Degree dengan Chiba University mulai 2018.
  • Credit Earning/Student Exchange, baik untuk mahasiswa pasca sarjana Arsitektur Lanskap dan juga program sarjana Arsitektur Lanskap berbagai negara seperti : Malaysia, Thailand, Jepang.
  • Joint Studio Workshop, melibatkan mahasiswa asing dari berbagai negara di Asia untuk menyelesaikan suatu proyek bersama dengan mahasiswa Departemen Arsitektur Lanskap, salah satunya kegiatan ILASW (International Landscape Architecture Student Workshop) yang telah dilaksanakan sejak tahun 2012.
  • Overseas Fieldtrip, melibatkan mahasiswa dan dosen melalui kegiatan kuliah lapang ke berbagai negara di ASEAN, diharapkan melalui kegiatan ini dapat membuka wawasan mahasiswa tentang perkembangan arsitektur lanskap di negara lain. Kedepannya kegiatan ini bisa diperluas hingga ke negara-negara di Asia.
  • International Symposium, program ini sudah dilakukan untuk yang ketiga kalinya. International Symposium of Sustainable Landscape Development (ISSLD) tahun  2017 ini akan diadakan pada bulan November dengan mengusung tema Urban Resilience.  Hasil dari simposium ini akan diterbitkan dalam IOP proceeding yang terindek scopus.  Kegiatan simposium ini untuk mendorong dan memotivasi dosen dan mahasiswa di Departemen Arsitektur Lanskap untuk meningkatkan publikasi Internasional.

Continue reading “Program Pengembangan Departemen Arsitektur Lanskap Lima Tahun Mendatang”

PHT (Pengendalian Hama Terpadu) Bio Intensif: Pendekatan Baru dalam Perlindungan Tanaman

 

“Pengendalian hama dan penyakit tanaman pada prosesnya bukan seperti halnya pemadam kebakaran, artinya jika api sudah besar lalu baru dipadamkan. Pengendalian hama dan penyakit tanaman dimulai dari perencanaan.” 

Departemen Proteksi Tanaman (PTN) saat ini dan dalam perkembangan 20 tahun kedepan  sudah banyak menemukan berbagai hama dan penyakit tanaman baru. Di PTN sendiri  paling tidak ditemukan sekitar 19 hama dan penyakit. Hampir 90% penemuan hama dan penyakit banyak ditemukan peneliti (IPB) Institut Pertanian Bogor khususnya di PTN, hama dan penyakit tersebut ditemukan pada tanaman pertanian dan perkebunan. Hal ini tentunya menjadi tantangan dalam mewujudkan keamanan dan ketahanan pangan dari ganguan penyakit.

Saat ini, Departemen Proteksi Tanaman sudah mengembangkan konsepsi Pengendalian Hama Terpadu (PHT Biointesif). PHT Biointensif merupakan sistem pengendalian hama dan penyakit yang mengedepankan pengendalian alami hayati dan pemahaman secara menyeluruh terhadap bioekologi hama/patogen. PHT biointensif meliputi penyehatan tanaman dan penyehatan lingkungan. Continue reading “PHT (Pengendalian Hama Terpadu) Bio Intensif: Pendekatan Baru dalam Perlindungan Tanaman”

KELAPA SAWIT : BENARKAH RAKUS AIR ?

Dr. Ir. Dwi Putro Tejo Baskoro, M.Sc.Agr

Dosen Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan,

Divisi konservasi Tanah dan Air

Fakultas Pertanian, IPB

Sampai saat sekarang ini pengembangan sektor pertanian masih merupakan salah satu program utama pembangunan ekonomi Indonesia, karena menyangkut sebagian besar hajat hidup rakyat Indonesia.Subsektor yang berperan penting dalam pembangunan sektor pertanian adalah perkebunan dengan salah satu komoditas andalannya adalah kelapa sawit.Kelapa sawit merupakan komoditas andalan dan menjadi primadona di Indonesia karena telah memberikan dampak ekonomi luar biasa baik bagi rakyat maupun bagi pemerintah.

Belakangan ini, pengembangan kelapa sawit banyak mengalami tantangan terutama terkait dengan isu kerusakan lingkungan yang ditimbulkannya. Kelapa sawit dianggap sebagai tanaman yang rakus air sehingga pengembangan kelapa sawit dapat menyebabkan kerusakan tata air di suatu wilayah. Terdapat anggapan bahwa perusahaan berbasis kelapa sawit banyak memiliki andil dalam pemborosan air untuk menghidupi perkebunannya. Makin banyaknya perkebunan kelapa sawit dipandang sebagai ancaman bagi ketersediaan air di suatu wilayah. Akibat keberadaan perkebunan kelapa sawit, ketersediaan air (di mata air maupun sungai) di wilayah tersebut semakin berkurang. Isu itu merebak sedemikian rupa sehingga masyarakat pun bahkan kerap diimbau untuk tidak menanam kelapa sawit. Kalangan penggiat perlindungan lingkungan hidup pun ikut juga mengingatkan tentang “bahaya” nya sawit: pengembangan kelapa sawit akan mengubah lahan hijau yang subur, jutaan hektar, menjadi gurun tandus, nanti ketika usia hidup sawit (setelah replanting) berakhir. Continue reading “KELAPA SAWIT : BENARKAH RAKUS AIR ?”

Bunga kelelawar hitam : Tanaman Obat nan Eksentrik

Selain memiliki manfaat sebagai sumber bahan obatobatan, tanaman bunga kelelawar memiliki nilai estetika tinggi karena bentuk bunganya yang unik dan langka

BULETIN FAPERTA ­­­­­­– Tampilannya cantik, besar nan rupawan, sekilas menyerupai kelelawar. Warna yang muncul perpaduan antara hitam, ungu, hijau dan kecokelat-cokelatan, memukau. Ya, bunga kelelawar atau disebut (bat flower,Taccachantrieri Andre, Taccaceae) adalah spesies Tacca yang banyak ditemui di hutan hujan tropis Asia Tenggara.

Bat flower merupakan tanaman tropis tahunan, anggota Taccaceae yang memiliki kandungan rizom T. Chantrieri ini telah digunakan sebagai obat tradisional di Tiongkok (baca: Jiang Su New Medical College, 1997) dan Thailand (Wutthithamawet, 1997). Hal ini dikemukakan dari  hasil evaluasi tanaman Taccachantrierise bagai tanaman hias pot yang di awali oleh Dr. Ir. Krisantini, Msc tahun 2014, kemudian dilanjutkan oleh Dr. Ir. Ni Made Armini Wiendi, M.S. tahun 2015 untuk perbanyakan secara kultur jaringan di lab kultur jaringan 2, Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB. Continue reading “Bunga kelelawar hitam : Tanaman Obat nan Eksentrik”