Membangun Faperta Yang Berdaya Saing Tinggi

Visi dan Misi Faperta mengarahkan bahwa pada tahun 2030 Faperta harus dapat menjadi lembaga pendidikan dan penelitian bidang pertanian yang bertaraf internasional, menghasilkan IPTEKS dan inovasi serta SDM yang berdaya saing global dan berkontribusi mengatasi berbagai tantangan bidang pertanian

Fakultas Pertanian (Faperta) adalah salah satu fakultas tertua di IPB. Faperta telah banyak menorehkan berbagai prestasi dalam pengembangan SDM berkualitas dan menghasilkan IPTEKS serta banyak menghasilkan inovasi untuk pembangunan nasional. Capaian ini karena Faperta IPB memiliki dosen dengan kualitas terbaik di Indonesia saat ini. Faperta IPB harus menghasilkan lulusan yang berdaya saing tinggi. Seperti diketahui bahwa sektor pertanian Indonesia saat ini menghadapi banyak masalah dan tantangan, baik on farm maupun off farm. Pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dan globalisasi pada umumnya memerlukan daya saing yang tinggi di berbagai bidang terutama di bidang SDM. Negara yang memiliki daya saing yang rendah akan menghadapi berbagai dampak negatif, baik dalam penguasaan sumberdaya,teknologi, inovasi, meningkatnya impor, termasuk impor tenaga kerja pertanian terdidik. Continue reading “Membangun Faperta Yang Berdaya Saing Tinggi”

Lahan Sawit Terdampak Aturan Gambut

Wawancara

Dr. Ir. Basuki Sumawinata, M.Agr

Lahan Sawit Terdampak Aturan Gambut

Gaya bicaranya tegas, lugas, dan meledak–ledak, ketika Buletin Faperta berkunjung ke ruang kerjanya. Dosen yang sekaligus pakar ilmu tanah yang masih aktif mengajar di Fakultas Pertanian ini, memaparkan penjelasan mengenai polemik gambut yang sedang hangat diperbincangkan banyak orang. Topik menarik yang dibahas sore itu, yakni soal Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 57 tahun 2016 tentang perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut, yang dampaknya meresahkan masyarakat yang telah menanam sawit di lahan gambut. Apalagi jika lahannya masuk ke dalam peta kawasan lindung gambut pada Kawasan Hidrologis Gambut (KHG). Restorasi kawasan lindung gambut di areal yang telah ditanami sawit akan banyak menemui masalah karena mengubah lahan sawit yang ditanam di lahan tersebut menjadi hutan lindung. Masalah makin sulit jika sejatinya lahan sawit itu ternyata berada di tanah mineral tetapi dimasukkan ke dalam kawasan lindung gambut. Ada 4 regulasi penerapan peraturan tentang perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut seolah-olah terlalu dipaksakan. Empat peraturan tersebut adalah (1) luas lahan yang perlu dijadikan kawasan lindung sebesar 30% dari KHG, (2) kedalaman muka air harus 0,4 meter, (3) lahan gambut 3 meter dan (4) adanya pirit di permukaan tanah, menjadi persoalan dan perdebatan saat ini. Bagaimana pandangan seorang pakar ilmu tanah Divisi Pengembangan Sumberdaya Fisik Lahan melihat regulasi PP Nomor 57/2016 tersebut, berikut petikan wawancaranya; Continue reading “Lahan Sawit Terdampak Aturan Gambut”

Program Pengembangan Departemen Arsitektur Lanskap Lima Tahun Mendatang

Program Internasional dan Nasional disusun dalam rangka mendukung perencanaan dan perkembangan jangka panjang Departemen Arsitektur Lanskap untuk lima tahun mendatang.  Adapun program-program tersebut beberapa merupakan lanjutan dari program sebelumnya dan juga ada yang program baru.  Semua program tersebut  melibatkan seluruh civitas akademika baik dosen maupun mahasiswa di Departemen Arsitektur Lanskap.

PROGRAM INTERNASIONAL

  • Akreditasi Internasional dari IFLA
  • Double Degree dengan Chiba University sejak 2010 dan Kyoto University mulai 2017.
  • Joint Degree dengan Chiba University mulai 2018.
  • Credit Earning/Student Exchange, baik untuk mahasiswa pasca sarjana Arsitektur Lanskap dan juga program sarjana Arsitektur Lanskap berbagai negara seperti : Malaysia, Thailand, Jepang.
  • Joint Studio Workshop, melibatkan mahasiswa asing dari berbagai negara di Asia untuk menyelesaikan suatu proyek bersama dengan mahasiswa Departemen Arsitektur Lanskap, salah satunya kegiatan ILASW (International Landscape Architecture Student Workshop) yang telah dilaksanakan sejak tahun 2012.
  • Overseas Fieldtrip, melibatkan mahasiswa dan dosen melalui kegiatan kuliah lapang ke berbagai negara di ASEAN, diharapkan melalui kegiatan ini dapat membuka wawasan mahasiswa tentang perkembangan arsitektur lanskap di negara lain. Kedepannya kegiatan ini bisa diperluas hingga ke negara-negara di Asia.
  • International Symposium, program ini sudah dilakukan untuk yang ketiga kalinya. International Symposium of Sustainable Landscape Development (ISSLD) tahun  2017 ini akan diadakan pada bulan November dengan mengusung tema Urban Resilience.  Hasil dari simposium ini akan diterbitkan dalam IOP proceeding yang terindek scopus.  Kegiatan simposium ini untuk mendorong dan memotivasi dosen dan mahasiswa di Departemen Arsitektur Lanskap untuk meningkatkan publikasi Internasional.

Continue reading “Program Pengembangan Departemen Arsitektur Lanskap Lima Tahun Mendatang”

PHT (Pengendalian Hama Terpadu) Bio Intensif: Pendekatan Baru dalam Perlindungan Tanaman

 

“Pengendalian hama dan penyakit tanaman pada prosesnya bukan seperti halnya pemadam kebakaran, artinya jika api sudah besar lalu baru dipadamkan. Pengendalian hama dan penyakit tanaman dimulai dari perencanaan.” 

Departemen Proteksi Tanaman (PTN) saat ini dan dalam perkembangan 20 tahun kedepan  sudah banyak menemukan berbagai hama dan penyakit tanaman baru. Di PTN sendiri  paling tidak ditemukan sekitar 19 hama dan penyakit. Hampir 90% penemuan hama dan penyakit banyak ditemukan peneliti (IPB) Institut Pertanian Bogor khususnya di PTN, hama dan penyakit tersebut ditemukan pada tanaman pertanian dan perkebunan. Hal ini tentunya menjadi tantangan dalam mewujudkan keamanan dan ketahanan pangan dari ganguan penyakit.

Saat ini, Departemen Proteksi Tanaman sudah mengembangkan konsepsi Pengendalian Hama Terpadu (PHT Biointesif). PHT Biointensif merupakan sistem pengendalian hama dan penyakit yang mengedepankan pengendalian alami hayati dan pemahaman secara menyeluruh terhadap bioekologi hama/patogen. PHT biointensif meliputi penyehatan tanaman dan penyehatan lingkungan. Continue reading “PHT (Pengendalian Hama Terpadu) Bio Intensif: Pendekatan Baru dalam Perlindungan Tanaman”

KELAPA SAWIT : BENARKAH RAKUS AIR ?

Dr. Ir. Dwi Putro Tejo Baskoro, M.Sc.Agr

Dosen Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan,

Divisi konservasi Tanah dan Air

Fakultas Pertanian, IPB

Sampai saat sekarang ini pengembangan sektor pertanian masih merupakan salah satu program utama pembangunan ekonomi Indonesia, karena menyangkut sebagian besar hajat hidup rakyat Indonesia.Subsektor yang berperan penting dalam pembangunan sektor pertanian adalah perkebunan dengan salah satu komoditas andalannya adalah kelapa sawit.Kelapa sawit merupakan komoditas andalan dan menjadi primadona di Indonesia karena telah memberikan dampak ekonomi luar biasa baik bagi rakyat maupun bagi pemerintah.

Belakangan ini, pengembangan kelapa sawit banyak mengalami tantangan terutama terkait dengan isu kerusakan lingkungan yang ditimbulkannya. Kelapa sawit dianggap sebagai tanaman yang rakus air sehingga pengembangan kelapa sawit dapat menyebabkan kerusakan tata air di suatu wilayah. Terdapat anggapan bahwa perusahaan berbasis kelapa sawit banyak memiliki andil dalam pemborosan air untuk menghidupi perkebunannya. Makin banyaknya perkebunan kelapa sawit dipandang sebagai ancaman bagi ketersediaan air di suatu wilayah. Akibat keberadaan perkebunan kelapa sawit, ketersediaan air (di mata air maupun sungai) di wilayah tersebut semakin berkurang. Isu itu merebak sedemikian rupa sehingga masyarakat pun bahkan kerap diimbau untuk tidak menanam kelapa sawit. Kalangan penggiat perlindungan lingkungan hidup pun ikut juga mengingatkan tentang “bahaya” nya sawit: pengembangan kelapa sawit akan mengubah lahan hijau yang subur, jutaan hektar, menjadi gurun tandus, nanti ketika usia hidup sawit (setelah replanting) berakhir. Continue reading “KELAPA SAWIT : BENARKAH RAKUS AIR ?”

Bunga kelelawar hitam : Tanaman Obat nan Eksentrik

Selain memiliki manfaat sebagai sumber bahan obatobatan, tanaman bunga kelelawar memiliki nilai estetika tinggi karena bentuk bunganya yang unik dan langka

BULETIN FAPERTA ­­­­­­– Tampilannya cantik, besar nan rupawan, sekilas menyerupai kelelawar. Warna yang muncul perpaduan antara hitam, ungu, hijau dan kecokelat-cokelatan, memukau. Ya, bunga kelelawar atau disebut (bat flower,Taccachantrieri Andre, Taccaceae) adalah spesies Tacca yang banyak ditemui di hutan hujan tropis Asia Tenggara.

Bat flower merupakan tanaman tropis tahunan, anggota Taccaceae yang memiliki kandungan rizom T. Chantrieri ini telah digunakan sebagai obat tradisional di Tiongkok (baca: Jiang Su New Medical College, 1997) dan Thailand (Wutthithamawet, 1997). Hal ini dikemukakan dari  hasil evaluasi tanaman Taccachantrierise bagai tanaman hias pot yang di awali oleh Dr. Ir. Krisantini, Msc tahun 2014, kemudian dilanjutkan oleh Dr. Ir. Ni Made Armini Wiendi, M.S. tahun 2015 untuk perbanyakan secara kultur jaringan di lab kultur jaringan 2, Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB. Continue reading “Bunga kelelawar hitam : Tanaman Obat nan Eksentrik”

Sanksi Menyelundupkan Benih dan Bibit Impor Tanpa Izin

Demi keamanan dan antisipasi impor luar negeri khusunya pangan, perlu adanya pengawasan khusus dalam hal proses karantina, hal ini dikemukakan Kepala Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian, Banun Harpini dalam seminar Nasional “Pemeriksaan Karantina dalam rangka Keamanan Pangan yang Berkualitas dan Mendukung Kebijakan Dwelling Time” dilansir dalam berita online Agroindonesia.

Untuk mewujudkan ketahanan pangan, peran karantina berfungsi sebagai pencegahan masuknya berbagai ancaman penyakit tumbuhan yang telah ditemukan karantina, berupa 800 jenis organisme pengganggu tanaman karantina (OPTK) meliputi mikroba, bakteri, kapang, khamir, protozoa, virus, kritil dan sebagainya, sedangkan gangguan keamanan pangan dari bahan kimia adalah residu pestisida. Continue reading “Sanksi Menyelundupkan Benih dan Bibit Impor Tanpa Izin”

Mahasiswa IPB “EXPOSE” Wujudkan Cibinong Water Front City dan Sentul City Menuju Kota Ramah Air”

“Air sebagai sumber kehidupan, mari kita bersahabat dengan air, jaga air selalu bersama kita. Kita ramah terhadap air dan air pun akan selalu baik terhadap kita dan segala mahluk hidup lainnya.”

Dalam rangka menyajikan hasil kerja praktik Program EXPOSE mahasiswa S1 dan S2 mata kuliah pengelolaan lanskap, Departemen Arsitektur Lanksap (ARL) Fakultas Pertanian IPB  merespon saran dan rekomendasi atas usul yang dicanangkan Bupati Bogor Hj. Nurhayanti untuk mewujudkan Cibinong Water Front City dan Sentul City menuju kota ramah air.

Program EXPOSE kali ini langsung disampaikan di hadapan berbagai pemangku kepentingan  diantaranya forum akademisi, jajaran pimpinan Bappeda dan SKPD Kota Bogor, pengusaha swasta PT Sentul City Tbk, PT Olympic Sentul, PT Asabi Agricon, komunitas  Bogor Sahabats, Komunitas Peduli Ciliwung dan beberapa wartawan beserta LSM lainnya, di Ruang Serba Guna 1 Setda Kabupaten Bogor Cibinong, Senin 10 Juli 2017, kemarin. Continue reading “Mahasiswa IPB “EXPOSE” Wujudkan Cibinong Water Front City dan Sentul City Menuju Kota Ramah Air””

Promosi Faperta IPB melalui Pelayanan Kunjungan atau Wisata Kampus

Oleh :

Dr. Ir. Nurhayati, M.Sc

Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan

Fakultas Pertanian, IPB

 

Kampus merupakan suatu lanskap atau area yang didalamnya terdapat bangunan dan berbagai fasilitasnya beserta lingkungan atau area ruang terbukanya, tempat diselenggarakannya aktivitas pendidikan tinggi. Kualitas kampus mendukung citra universitas dan dapat menjadi wahana promosi universitas yang bersangkutan. IPB sejak tahun 2015 telah mencanangkan Gerakan Menuju Green Campus 2020. Gerakan ini sampai saat ini masih berproses melalui beberapa tahapan, mencakup program-program Green Transportation, Green Movement, Green Energy, hingga Green Building and Open space. IPB juga termasuk 10 Green Campus di Indonesia (peringkat 2 pada tahun 2014) menurut versi UI Greenmetrics. Jadi sudah selayaknya kampus IPB memang “green”, bersih, indah, dan nyaman.  Selain memberikan kenyamanan bagi sivitas akademika, kampus juga terbuka, mudah diakses, dan ramah kepada tamu/pengunjung, serta dilengkapi fasilitas yang memudahkan pengunjung untuk mendapatkan informasi.

Continue reading “Promosi Faperta IPB melalui Pelayanan Kunjungan atau Wisata Kampus”

Polemik PP Gambut, Tidak Pro Lahan Pertanian

Artikel Opini

Dr. Ir. Suwardi, M.Agr
Dosen Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian IPB
Himpunan Masyarakat Gambut Indonesia (HMGI)

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 57/2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Gambut menjadi sebuah polemik dan memperoleh kritikan dari masyarakat pengguna gambut, khususnya di kawasan budidaya. PP tersebut hanya mementingkan perlindungan gambut dan tidak mempertimbangkan pengelolaan gambut untuk budidaya. Padahal gambut sebagai sumberdaya alam mempunyai fungsi lindung dan sekaligus fungsi budidaya yang hendak diatur dalam PP.

Continue reading “Polemik PP Gambut, Tidak Pro Lahan Pertanian”