Mempercantik Taman Fakultas Pertanian

Departemen Arsitektur Lanskap Fakultas Pertanian kini tengah melaksanakan kegiatan penataan ulang taman welcome rea kampus Faperta. Kegiatan pekerjaan penataan ulang taman welcome area Faperta bertujuan untuk memperindah taman dengan cara menyatukan dan mengelompokkan tanaman berdasarkan jenis dan tinggi tanaman tersebut.

Sejak tahun 1999 hingga saat ini Faperta memiliki outdoor space yang dahulu dirasakan kurangnya naungan pepohonan, dan sampai saat ini tumbuh mencapai ukuran dewasa,  banyak tanaman semak dan ground cover dibawah naungan pohon besar menjadi tidak tumbuh secara optimal karena kurangnya sinar matahari. Oleh karena itu kegiatan ini dilakukan pemangkasan pohon dan ranting serta dahan kering dari pepohonan besar, sehingga space taman di welcome area Faperta menjadi lebih luas.

Dr. Akhmad Arifin Hadi selaku dosen program studi perencanaan dan desain lanskap menambahkan selain untuk memperindah taman, kegiatan ini berupaya untuk meningkatkan kekompakan antar personel staff penunjang dan dosen serta pimpinan Departemen dan Fakultas, “Taman welcome area Fakultas Pertanian sebetulnya sudah cukup indah dan teduh, namun untuk menghilangkan kesan monoton pada tampilan taman, kami berupaya menata kembali taman di kawasan faperta agar tidak membosankan dengan menata kembali elemen-elemen tanamannya,” Ungkapnya.

Dahulu, desain taman dari welcome area faperta menggunakan banyak tanaman border berjajar dari jenis teh-tehan, yang membatasi antara trotoar, konblok atau teras bangunan dengan taman. Berdasarkan panduan desain dari buku Basic Elements of Landscape Architectural Design karangan Norman K Booth 1983 bahwa tanaman yang ditanam berjajar dapat menimbulkan efek screening yang membatasi pandangan visual manusia dari trotoar ke taman.

Oleh sebab itu tanaman border tersebut diganti dengan aneka tanaman baru disusun secara harmonis dengan minim pemangkasan seperti parishota, lili paris, philodendron xellum dan bromelia guna meringankan beban staff yang merawat taman. Tidak seperti  tanaman border yang memerlukan perawatan yang tinggi agar mempertahankan bentuknya. Namun demikian tanaman yang membutuhkan pemangkasan intensif seperti bayam merah dan coleus tetap digunakan untuk memecah kemonotonan bentuk tanaman.

Selain tanaman, area tersebut  juga menggunakan border list batu koral putih untuk mempertegas pola penanaman. Tanaman yang sejenis ditanam berdekatan agar terlihat kompak dan berkelompok. Tanaman yang lebih tinggi diletakkan menjauhi jalan dan yang lebih rendah mendekati jalan sehingga komposisi tanaman terlihat jelas dari jalan.

Beberapa pohon tinggi seperti Ki Hujan dan Kenari, dua batang Pohon Ki Hujan yang berada di ujung welcome area faperta merupakan tanaman yang penting karena memberikan identitas yang kuat dan naungan yang efisien pada welcome area Faperta. Pada awalnya tanaman yang berada di bawah pohon Ki Hujan tersebut tidak ditanam rapat dan terkesan kasar karena menggunakan tanaman semak Sansevieria atau pedang-pedangan dan Diffenbachia atau Blancing.

Kemudian warna tanah masih terlihat di sela-sela tanaman semak tersebut yang mengurangi nilai estetika. Pada bagian tersebut tanaman groundcover lili paris dan parishota ditanam agar bentuk batang pohon Samanea saman dan kenari yang memiliki estetika tersendiri dapat terekspose. Kedua tanaman groundcover itupun toleran dengan naungan sehingga tetap dapat tumbuh optimal dan menguatkan kesan batang pohon.

Lebih lanjut, selain memberikan efek keindahan pada taman Faperta, kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan etos kerja bagi staff penunjang yang terlibat, alhasil jerih payah mereka terlihat langsung di lapangan berupa taman yang indah.

AKANKAH SUNGAI CITARUM KEMBALI HARUM?

Suwardi

Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

 

Sungai Citarum merupakan sungai terpanjang dan terbesar di Provinsi Jawa Barat. Sungai tersebut memiliki panjang sekitar 300 km yang melintasi 10 Kabupaten dan 2 Kota. Wilayah-wilayah tersebut yaitu Kabupaten Cianjur, Bandung, Sumedang, Indramayu, Subang, Purwakarta, Karawang, Bekasi, Bandung Barat, Bogor, Kota Bandung, dan Kota Cimahi. Menurut Kementerian PUPR dalam Permen No.4/PRT/M/2015 dalam bbwscitarum.com, di dalam wilayah sungai (WS) Citarum terdapat 19 DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) dan banyak sub-sub DAS. Kesembilan belas DAS di WS Citarum antara lain DAS Citarum, Sedari, Cisaga, Cibadar Dua, Cibadak, Cikarokrok, Cibanteng, Cimalaya, Cigemari, Ciasem, Batangleuting, Cireungit, Cirandu, Cipunagara, Sewo, Sukamaju, Bugel, Cibodas, dan Cidongkol.

Wilayah sungai Citarum mempunyai luas 11,323.34 km2 atau 32.01% dari luas Provinsi Jawa Barat (35,374.38 km2). Sungai Citarum mempunyai peran yang sangat besar untuk kehidupan masyarakat Jawa Barat dan DKI Jakarta. Sekitar 35 juta masyarakat memanfaatkan air dari sungai Citarum. Beberapa peran dari Citarum adalah sebagai sumber air baku, irigasi pertanian, sumber bagi PLTA, dan pemasok air bagi kegiatan domestik dan industri. Menurut Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, potensi air di WS Citarum adalah 12.95 miliar m3/tahun. Sekitar 7.65 miliar m3/tahun dapat dikendalikan untuk dimanfaatkan dalam banyak bidang seperti air irigasi (86.7%), air baku (6%), industri (2%), municipal (0.3%), dan pemeliharaan (5%). Sisanya sebanyak 5.30 miliar m3/tahun tidak dapat dikendalikan dan langsung terbuang ke laut.

Di dalam WS Citarum terdapat tiga waduk besar, yaitu waduk Saguling, waduk Cirata, dan waduk Jatiluhur. Waduk Saguling berada di elevasi ± 643 mdpl dan menghasilkan tenaga listrik sekitar 750 MW (PT Indonesia Power). Waduk Cirata terletak di ketinggian 220 mdpl dan menghasilkan tenaga listrik sekitar 1,000 MW (PT. Pembangkit Jawa Bali), sedangkan waduk Jatiluhur berada di ketinggian sekitar 100 mdpl dan menghasilkan tenaga listrik 187.5 MW (PJT II). Peran dan potensi WS Citarum yang sangat besar tidak bisa maksimal dan bahkan terhambat oleh keadaan Citarum saat ini.

Sungai Citarum dinobatkan sebagai sungai terkotor di dunia. Hal tersebut dapat dilihat di lapangan bahwa sungai Citarum tercemar oleh limbah-limbah cair maupun padat. Terdapat beberapa sumber pencemaran sungai Citarum. Pertama,  limbah kotoran ternak. Sekitar 82.4 ton kotaran sapi dibuang ke situ Cisanti per harinya. Selain itu, di Kecamatan Pengalengan, Kertasari, dan Arjasari terdapat beberapa peternakan dengan lebih dari 27,000 ekor sapi dan masyarakat membuang kotoran sapi tersebut ke hulu sungai sebanyak 405 ton setiap hari. Kedua, limbah domestik. Menurut merdeka.com (18-02-2019), sekitar 60-70% limbah domestik mencemari perairan sungai Citarum. Ketiga, limbah industri. Masih banyak sekali limbah kegiatan industri yang langsung dibuang ke sungai Citarum tanpa adanya pengelolaan terlebih dahulu. Sebagai contoh, industri tekstil di Majalaya Kabupaten Bandung. Terdapat 600 industri tekstil di wilayah tersebut, namun yang menerapkan IPAL dengan baik hanya 10% saja. Hal yang sama juga terjadi di daerah industri lain seperti di Purwakarta, Karawang, dan Bekasi. Keempat, limbah pertanian. Selain tercemarnya sungai Citarum, terdapat hal lain yang menjadi masalah di sungai tersebut.

Isu-isu tersebut antara lain pertumbuhan penduduk menyebabkan peningkatan permintaan air untuk pertanian, rumah tangga, dan industri; kerusakan DAS akibat deforestasi, praktik pertanian, perumahan, dll; erosi dan sedimentasi; banjir dan kekeringan; degradasi tanah; serta adaptasi penataan kelembagaan di antaranya berbagi peran dan partisipasi stakeholder. Di dalam air sungai Citarum terkandung logam-logam berat yang melebihi ambang batas. Keadaan-keadaan tersebut membuat sungai Citarum menjadi hal penting yang membutuhkan perhatian dan penanganan secara serius.

Pada tahun 2018 lalu, dikeluarkan Peraturan Presidan RI Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum. Upaya penanganan sungai Citarum dilakukan oleh berbagai pihak yang terintegrasi. Bahkan anggota TNI diturunkan langsung untuk membantu mengatasi permasalahan di WS Citarum. Daerah hulu telah dilakukan konversi tanaman sayuran ke tanaman kopi yang dapat mengurangi erosi. Ribuan batang kopi Arabika telah ditanam menggantikan tanaman kubis, wortel, dan tanaman sayuran dataran tinggi lainnya.

Operasi penertiban pembuangan limbah yang berasal dari pabrik telah dilakukan intensif oleh TNI. Dengan komando vertikal, seluruh jajaran TNI memantau limbah pabrik. Pemilik pabrik dipaksa untuk mengolah limbahnya sebelum dibuang ke sungai. Tidak segan-segan TNI menyemen saluran buangan limbah ke sungai. Pembersihan limbah-limbah padat seperti sampah dibeberapa titik telah dilakukan bersama masyarakat.

Saat ini masyarakat sekitar sungai Citarum telah merasakan mulai membaiknya kualitas sungai Citarum. Jika upaya penanganan sungai Citarum tersebut dilakukan secara berkelanjutan, maka ‘Citarum Harum’ dapat dicapai dan dapat menjadi model bagi penanganan sungai-sungai di Indonesia.

 

 

Polinator dan Lebah Madu

Budi Tjahjono

Alumni Faperta IPB

Ada satu pernyataan menarik dari salah satu pembicara asal Thailand dalam konferensi perlebahan Asia (Jakarta, 22-25 Oktober 2018), bahwa mereka menghadapi masalah kelebihan produksi buah lengkeng.  Salah satu solusi yang dia tawarkan adalah dengan memanfaatkan daging buah lengkeng untuk pengganti gula sebagai alternatif sumber karbohidrat bagi lebah madu.  Masalah kelebihan produksi ini jarang sekali kita dengar kalau kita membicarakan pertanian di Indonesia. Demikian pula tentang lebah madu, jarang menjadi pembicaraan sebagai bagian yang penting dalam sistem pertanian di Indonesia.  Sementara itu, di negara-negara yang produksi pertaniannya melimpah seperti Amerika dan Thailand, lebah selain untuk produksi madu juga banyak dimanfaatkan sebagai penyerbuk (polinator) untuk meningkatkan produktivitas pertanian.  Oleh karena itu, saya disini akan mengingatkan kita semua tentang pentingnya peran polinator, khususnya lebah madu, dalam produksi pertanian.

Sebagai contoh sukses,  polinator yang paling terkenal dalam meningkatkan efisiensi biaya penyerbukan dan produktivitas perkebunan sawit di Indonesia dan Malaysia adalah kumbang Elaeidobius kamerunicus. Kumbang yang diintroduksi dari Afrika ini lebih berperan sebagai penyerbuk bagian dalam dari perbungaan, sedangkan yang berperan dalam penyerbukan bagian permukaan perbungaan adalah  beberapa jenis lebah lokal, terutama Apis spp. dan Trigona spp. Dua jenis keluarga lebah lokal ini saya kenal tanpa sengaja selama saya memimpin riset bidang proteksi tanaman  akasia dan ekaliptus di Riau. Saya jatuh cinta kepada serangga penyerbuk yang juga penghasil madu ini, mirip waktu dulu saya menyenangi rumput untuk lansekap dan lapangan olahraga (golf dan sepak bola). Banyak jenis lebah lokal yang memanfaatkan nektar ekstra floral yang dihasilkan oleh pohon akasia yang banyak ditanam di Riau dan Kalimantan untuk bahan baku industri pulp dan kertas.

Keragaman lebah di Indonesia luar biasa. Menurut Sih Kahono peneliti lebah dari LIPI, tak kurang dari 456 spesies yang sudah diketahui, baik yang termasuk serangga sosial maupun yang soliter. Ada sekitar 7 jenis lebah madu Apis spp. yang menyengat bila diganggu dan lebih dari 34 spesies lebah tanpa sengat (Apidae: Melliponinae). Orang umum mengenal lebah madu tanpa sengat ini (Trigona spp.) sebagai lanceng (Jawa), teuweul (Sunda),galo-galo (Palembang) atau kelulut (Melayu). Saya telah mengkoleksi beberapa jenis lebah madu tanpa sengat ini untuk studi penyerbukan dan dapat hasil sampingan berupa madu dan propolis untuk kesehatan.

Menariknya,  ada sekelompok orang Indonesia pecinta lebah tanpa sengat ini dan mengidentifikasikan kelompoknya secara informal dalam WA group dengan nama Komunitas Trigona Nusantara (KTN).   Ada lagi sekelompok orang Indonesia yang lebih banyak mendiskusikan jenis lebah madu Apis spp. disamping jenis lebah lainnya, dan mereka mengorganisir diri dalam suatu wadah formal yang bernama Asosiasi Perlebahan Indonesia (API). API ini menjadi anggota organisasi perlebahan di tingkat Asia (Asian Apiary Association) dan di tingkat dunia (APIMONDIA) yang secara periodik mengadakan konferensi perlebahan (gambar 1). Saya banyak belajar perlebahan sebagai anggota KTN dan API.

Gambar 1. Konferensi perlebahan Asia yang ke -14 di Jakarta, IPB menjadi salah satu sponsor

Gambar 2. Lebah Apis cerana; Gambar 3. Budidaya Lebah  A. cerana dalam kotak

2
3
1

 

 

 

Jenis lebah madu Apis yang paling banyak dibudidayakan dan digembalakan adalah lebah eropa (Apis mellifera)yang jinak dan sangat produktif, sedangkan lebah madu lokal (Apis cerana) hanya dibudidayakan secara terbatas dalam kotak-kotak di pekarangan atau kebun pedesaan (Gambar 2 dan 3). Sayangnya jenis Apis liar yang terbesar (Wild giant honey bee: Apis dorsata) dan menghasilkan banyak madu dalam sarang terbuka di atas pohon-pohon yang tinggi besar (Gambar 4) tidak bisa dibudidayakan.

 

Gambar 4.  Panen madu lebah raksasa (Apis dorsata) di pohon sialang yang tinggi besar dalam hutan Riau.

Peran lebah sebagai pollinator maupun penghasil madu akhir-akhir ini makin terancam dengan adanya perubahan habitat, illegal logging, kebakaran hutan, aplikasi pestisida yang berlebihan, serangan hama penyakit lebah, ataupun sistem panen madu yang tidak lestari / gangguan manusia. Pada waktu penulis baru pindah ke Riau, masih banyak menjumpai pohon sialang dengan  sarang lebah madu yang melimpah. Pengamatan saya dikonfirmasi oleh survey  Purnomo (Litbang Kehutanan, Kuok) pada tahun 2005/2006  yang mencatat lebih dari 2011 pohon sialang di Riau  dengan rata-rata 20 sarang lebah madu/pohon. Pengamatan kami satu dekade kemudian (2017/2018) di Riau menunjukkan penurunan populasi pohon sialang maupun jumlah sarang lebah/pohon, masing-masing sebesar 40% dan 60%.

Khawatir dan prihatin terhadap penurunan populasi lebah madu, saya menginisiasi terbentuknya Pusat Studi Polinasi dan Lebah Madu (PSPLM) di Universitas Islam Riau, dimana saya sejak pensiun dari IPB membantu   mengajar bidang proteksi tanaman.  Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya peran lebah dan proteksi habitatnya.  Kegiatannya antara lain penelitian tentang lebah dan perannya sebagai pollinator, pendidikan masyarakat terkait perlebahan yang lestari, pengkayaan tanaman pakan lebah, dan membantu peningkatan budidaya lebah sebagai pollinator maupun penghasil madu.  Semoga bermanfaat untuk masyarakat, ekonomi pertanian dan lingkungan.

 

KONSEP HIJAU DI KAMPUS IPB DARMAGA IPB GREEN CAMPUS 2020

Oleh: Hadi Susilo Arifin

Kepala Divisi Manajemen Lanskap, Departemen Aristektur Lanskap, Fakultas Pertanian,

Ketua Komisi B – Dewan Guru Besar IPB & Anggota Komisi A – Senat Akademik IPB

 

PENDAHULUAN

Gerakan Hijau “green movement”, adalah kegiatan pembudayaan penerapan prinsip-prinsip hijau/ekologis/keberlanjutan mulai dari proses perencanaan, perancangan, pelaksanaan dan pengoperasian hingga manajemen suatu obyek (bisa mulai dari bangunan, fasilitas, infrastruktur, moda transportasi, wilayah kampus, wilayah desa, wilayah kota dan lain sebagainya) serta lingkungannya. Pada gilirannya, gerakan “green” dengan mengusung konsep “green” ini akan mewujudkan “green building”, “green facilities”, “green infrastructure”, “green transportasi”, “green campus”, “green village”, “green city” dan lain sebagainya.

Penerapan konsep green dalam wujud obyek atau wilayah memerlukan designation dari suatu lembaga independen. Misalnya untuk “green building”, di Indonesia ada Lembaga Konsil Bangunan Hijau Indonesia atau “Green Building Council Indonesia” yang didirikan pada tahun 2009 dan diselenggarakan oleh sinergi di antara para pemangku kepentingannya, meliputi: Profesional bidang jasa konstruksi; Kalangan Industri Sektor Bangunan dan Properti; Pemerintah; Institusi Pendidikan & Penelitian; dan Asosiasi profesi dan masyarakat perduli lingkungan. Green Building Council Indonesia adalah anggota dari World Green Building Council (WGBC) yang berpusat di Toronto, Kanada. WGBC saat ini sudah mempunyai 64 negara anggota, dan hanya mengakui satu GBC di setiap negara. Green Building Council Indonesia melakukan kegiatan pendidikan masyarakat secara luas serta menyelenggarakan Sertifikasi Bangunan Hijau di Indonesia berdasarkan perangkat penilaian khas Indonesia yang diberi nama GREENSHIP.

Dalam penerapan konsep green city misalnya, kelembagaannya ada di bawah Kementrian Pekerjaan Umum melalui Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH). Program ini memang datang dari atas, secara Top-Down ditawarkan P2KH kepada kota dan kabupaten. Meskipun demikian, usulannya memang datang dari tingkat Kota/Kabupaten ke Kementrian terkait. Gerakan kota hijau juga merupakan respon terhadap perubahan iklim global. Dan dalam agenda nasional juga bagaimana menerapkan peraturan yang tertuang pada Undang-Undang No 27 tahun 2006 tentang penataan ruang (mulai nasional, wilayah, kota/kabupaten) tentang kewajiban penyediaan minimal 30% ruang terbuka hijau (RTH) pada suatu wilayah. Meskipun kita tahu konsep hijau di mana pun tidak semata diindikasikan oleh ketersediaan RTH saja. Begitu juga dalam konsep “green campus”.  Hal ini akan terwujud dengan sempurna bilamana elemen-elemen pendukungnya juga melakukan gerakan-gerakan dengan “green concept”nya, mulai dari green building, green infrastructure, green transportation, dan lain sebagainya.

 

KONSEP HIJAU

Konsep hijau sendiri memberi perhatian penuh pada konsep penghematan, yaitu penghematan lahan, penghematan bahan, dan penghematan energi (saving land, saving material, and saving energy). Hal ini tentu didasarkan pada konsep ekosistem. Artinya, pembangunan apa pun sebaiknya mengacu pada kondisi ekosistemnya baik dari kondisi biologisnya (biotic) yaitu tumbuhan, tanaman, hewan, satwa liar, manusia termasuk semua mahluk hidup yang ada di dalamnya), maupun kondisi fisiknya (abiotic) seperti tanah, air dan udara.

Pada tataran wilayah maka muncullah istilah eco-campus, eco-village, eco-city, dan lain-lain. Ketika respon suatu ekosistem memiliki kelentingan (resilient) pada perubahan lingkungan maka wilayah tersebut bisa memiliki jaminan keberlanjutan, baik keberlanjutan ekologis (lingkungan bio-fisik), keberlanjutan ekonomis, maupun keberlanjutan kultural (sosial budaya). Pada tingkat ini akan muncul sustainable campus, sustainable village, sustainable city, dan lain sebagainya,

 

UNEP DAN ISO14001 TINGKAT KOTA

Dalam mengimplemantasi green concept, konsep ekologis, maupun konsep keberlanjutan maka ada baiknya kita melihat dari United Nation for Environmental Program (UNEP) yang telah mengeluarkan ISO14001 pada tingkat kota. Dalam hal penerapan di kampus, kita juga bisa menganalogikan pada variable ini. Beberapa tindakan indikator untuk menuju ke implementasi green, ekologis, dan keberlanjutan maka hendaknya meliputi, kegiatan sebagai berikut:

  1. Promotion of Eco-office (7 gerakan): penghematan energi; penghematan air; pengurangan limbah padat; pendaur-ulangan bahan; Green procurement; konservasi air-udara bersih; pengendalian bahan kimia
  2. Promotion of Eco-Project (6 gerakan): penggunaan-penggunaan bahan ramah lingkungan; peralatan yang ramah lingkungan; hasil daur ulang; rekayasa hijau pada pekerjaan ke-PU-an; pengembangan teknologi hijau; promosi penghijauan.
  3. Green City Planning (5 gerakan): menyusun panduan hijau bagi ke PU-an; bagi perumahan; meningkatkan penggunaan transportasi umum; membangun kapasitas; mengajukan sitem manajemen lingkungan bagi kota keseluruhan.

 

TINDAKAN MENUJU KEBERLANJUTAN

Implementasi konsep hijau maupun konsep ekologis, semuanya akan bermuara pada konsep yang berkelanjutan. Oleh karena itu apakah pada level desa, kota, wilayah atau pun sekecil area kampus, proses dan upaya ini bertujuan untuk mewujudkan suatu lingkungan yang berkelanjutan. Terdapat 3 hal yang diperhatikan dalam keberlanjutan, yaitu keberlanjutan lingkungan (ekologis, bio-fisik), keberlanjutan ekonomis, dan keberlanjutan sosio-kultural (Gambar 1).

Gambar 1. Tiga aspek yang saling berhubungan dan memiliki overlapping satu sama lain dalam keberlanjutan lingkungan

 

Tiga hal hang menyangkut keberlajutan adalah sebagai berikut:

  1. Komponen desain ekologis pada lingkungan: manajemen sumberdaya air; lanskap kota; manajemen limbah; transportasi; teknologi yang berkelanjutan
  2. Komponen ekonomi: strategi kekuatan ekonomi dari pembangunan yang berkelanjutan – perubahan Tata Guna Lahan rural-suburban-urban; kebijakan permukiman-pekerjaan, infrastruktur-biaya pemeliharaannya; hilangnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) – Ruang Terbuka Biru (RTB); akibat adanya polusi; akibat kemacetan lalu lintas.
  3. Komponen sosial-budaya: meningkatkan partisipasi masyarakat; pengembangan berbasis pengetahuan lokal dan kearifan lokal; menilai tingkat keberlanjutan masyarakat.

 

KAMPUS HIJAU-KAMPUS EKOLOGIS-KAMPUS BERKELANJUTAN

Dengan analogi pada pengembangan kota hijau, kota yang sehat secara ekologis (the Green City Vision, 2008), maka dalam mewujudkan kampus hijau kita perlu juga melakukan:

  1. Mengkampanyekan kegiatan dengan berjalan kaki, bersepeda, menggunakan moda tranportasi umum, dan angkatan massal bagi pengembangan green transporation. Bagaimana bisa dicapai jika kebijakannya diberlakukan angina-anginan? Atau hangat-hangat tahi ayam? Tidak bisa tidak harus istiqomah.
  2. Mengembangkan teknologi energi terbaharukan bagi green building dan green businesse, misal menerapkan penggunaan solar energy untuk sumber penerangan jalan, penerangan taman-tama, dan lain-lain. Beberapa segemen jalan sudah Nampak. Tapi rohnya adalah “penghematan”. Perilaku bijak menggunakan lampu listrik, menggunakan air, AC dan lainnya. Adakah IPB punya niat menampung buangan air AC. Pengamatan penulis, AC 0.5PK dinyalakn dari pk. 8 sampai dengan pk. 16 akan mengahsilkan sekitar 20 Liter H20.
  3. Merestorasi lingkungan dan lanskap kampus, memberdayakan keberadaan RTH dan RTB, misalnya mempraktekkan pembangunan taman-taman/kebun-kebun/pertanian organic yang ramah lingkungan, taman-taman yang bisa memanen air hujan (rain gardens), menggunakan jenis-jenis tanaman lokal, mengusung RTH dan RTB sebagai media dalam jasa lanskap, atau jasa ekosistem, atau jasa lingkungan. Taman-taman kampus selayaknya diusung sebagai LANSKAP PRODUKTIF, estetika indah, fungsional berguna sebagai landscape services: biodiversity conservation, Carbon sequestration, water resources management, food security, remarkable landscape.
  4. Melakukan gerakan-gerakan yang berwawasan lingkungan antara lain mempraktekkan pemilihan sampah dan melakukan pengolahannya di dalam kampus. Dalam hal ini tidak kalah penting bukan hanya penyediaan infrastruktur dan fasilitasnya saja tetapi dilakukan building capacity nya. Semua civitas academica dan tenaga kependidikan selayaknya paham dan mengerti, serta aktif dalam gerakan-gerakan ini.
  5. Menyusun ROAD MAP secara time series, hari per hari, minggu per minggu, bulan per bulan, tahun per tahun sampai dengan 2020 yang efektif tinggal 1,5 tahun lagi. Pendataan R & D, Teknologi yang akan digunakan, Produk-produk yang hatus dicapai dalam menuju Green Campus 2020, dan tidak kalah penting “market”nya siapa?

 

Dengan demikian, target dari green campus di IPB yaitu dapat menyadarkan semua civitas academica serta dengan segala tenaga kependidikan dan semua masyarakat yang ada di sekitar kampus untuk berperilaku ramah terhadap lingkungan. Sehingga hal tersebut akan memberikan dampak nyata, sebagai berikut:

  1. Security/safety: masyarakat kampus, yaitu civitas academica dan staf kependidikan dapat menjalankan kegiatannya tanpa takut terhadap gangguan baik gangguan buatan manusia /alami.
  2. Comfortability: menyediakan kesempatan setiap elemen masyarakat kampus mengartikulasikan nilai sosial budaya dalam keadaan damai.
  3. Productivity: Menyediakan infrstruktur yang efektif – efisien, memfasilitasi proses ekonomi produksi & distribusi dalam meningkatkan nilai tambah, untuk mencapai kesejahteraan masyarakat kampus, serta meningkatkan daya saing.
  4. Sustainability: Menyediakan kualitas lingkungan yang lebih baik bagi generasi saat ini tetapi untuk generasi yang akan datang.

 

GERAKAN GREEN TRANSPORTATION

Green transportation, transportasi hijau adalah suatu terobosan yang sangat baik di kampus IPB dalam mengusung implementasi konsep hijau. Green transportation tidak semata-mata menyediakan mobil listrik, bus keliling kampus, ojek distop beroperasi dalam kampus, kemudian civitas academica memarkir kendaraan di titik tertentu, atau civitas academica dimohon berjalan dari tempat satu ke tempat lainnya, dan beberapa program lainnya hanya berupa gerakan-gerakan yang dilakukan secara fisik. Kelihatannya sederhana, tetapi seharusnya didasari oleh konsep filosofis yang dalam, perencanaan yang matang, implementasi yang secara holistik, dan komitmen manajemen serta pengawasan yang konsisten. Gerakan ini perlu komitmen pimpinan, pengelola kampus dan masyarakat kampus.

Pemahaman konsep dan filosofi hijau selayaknya dikenalkan sebelum gerakan dimulai. Tidak sebentar, kadang-kadang memerlukan waktu yang cukup lama meski pun civitas academica berada di lingkungan intelek, berpendidikan dan berbudaya. Tetapi perubahan perilaku, kebiasaan, tata-cara tetap membutuhkan pemahaman dan persepsi yang sama, preferensi yang sama, dan tindakan yang sama. Sehingga etika dan norma yang ditegakkan akan memiliki nilai-nilai yang bermakna dalam mengusung konsep hijau, khususnya menterjemahkan konsep hubungan manusia dengan alam/lingkungannya. Sosialisasi melalui peraturan, selebaran, spanduk, video papan-papan pengumuman yang bersifat persuasive secara sederhana. Praktik demikian perlu dilakukan secara bertahap dan memakan waktu. Hal tersebut bisa dilakukan secara simultan dengan inisiasi implementasi program.

Perencanaan transportasi hijau selayaknya didahului oleh prasarana baru kemudian sarananya (bukan “sar-pras” tetapi “pras-sar”). Hal yang paling sederhana sambil sosialiasi mulailah IPB dengan melakukan pembenahan prasarana, sebagai berikut:

  1. Penambahan panjang pedestrian track dan cycling line dari satu titik ruang ke titik lainnya. Jika perlu jalur tersebut berkanopi, sehingga pejalan kaki dan pesepeda tidak kepanasan saat terik matahari dan tidak basah kuyup saat hujan.
  2. Perancangan kanopi bisa dibuat per segmen jalan sehingga tidak monoton dan menjadi daya tarik serta “tetenger” atau “landmark”. Kanopi diharuskan berlampu dan berperangan listrik pada setiap jarak yang memadai untuk keamanan malam hari. Bahwa ada isu jika ada kanopi maka akan menjadikan kawasan kumuh, saya kira semua tergantung dalam manajemen lanskap dan komitmen pengelola kampus.
  3. Penyediaan parkir sepeda di setiap unit atau kantor dan ditempatkan pada posisi yang paling strategis. Misalnya sama dengan posisi parkir mobil pejabat saat ini. Sehingga memudahkan aksesibilitas pengguna sepeda ke ruang kantornya.
  4. Pemasangan Cermin cebung pada setiap pertigaan dan perempatan dalam kampus, akan meningkatkan keamanan pesepeda dan pejalan kaki.
  5. Penempatan halte bus yang strategis, dibuat secara berhadapan di sisi kanan dan sisi kiri jalan dan tidak langsung di tepi jalan. Di setiap halte bus diberikan coakan lahan sekitar panjang 5-6 meter dan lebar 2-3 meter untuk tempat bus parker sementara saat menaikkan/menurunkan penumpang.
  6. Pengecatan aspal untuk sebra cross, penyebrangan di tempat-tempat strategis. Hal ini penting dalam mendidik civitas acedemica berperilaku dalam lalu-lintas yang benar.  Dan hanya di tempat itulah civitas academica dididik untuk menyebrang jalan. Oleh karena itu jumlah dan jarak harus didasarkan dari kondisi fisik lanskap jalan serta perilaku pengguna jalan.
  7. Perbanyakan dan penempatan rambu-rambu lalu lintas di tempat strategis. Hal ini pun dilaukakan berdasarkan kelayakan dan kesesuaian jalan atau lokasi tersebut. Hal ini memberikan pendidikan bagi civitas academica/pengguna jalan. Tentu saja dibarengi dengan tindakan hukum jika adanya pelanggaran-pelanggaran.
  8. Penyediaan tempat parkir yang terkonsentrasi pada titik-titik strategis, baik yang dikhususkan untuk staff (menggunakan portal otomatis berkartu elektronik dan ber CCTV) maupun parkir untuk mahasiswa dan tamu umum. Semua pelanggaran perlu diberikan sanksi hukum yang telah disosialisasikan sebelumnya dan dibuat tertulis.
  9. Jika semua prasarana di dalam kampus maupun di luar kampus sudah memadai karena konsep hijau ini perlu dibangun secara holistic oleh semua para-pihak maka bisa diusulkan tentang OPSI penggunaan kendaraan bermotor berdasarkan jarak tempat tinggal. Mengadopsi pengalaman di beberapa kampus di Jepang, misal di Okayama University diberlakukan bahwa Dosen boleh membawa kendaraan bermotor jika memiliki jarak tempuh dari rumah ke kampus lebih dari 3 km. Staff kependidikan dijinkan membawa kendaraan bermotor jika jarak tempat tinggal ke kampus lebih dari 5 km. Sedangkan mahasiswa dijinkan membawa kendaraan bermotor jika jarak tempat tinggal ke kampus lebih dari 7 km. Kembali ide ini sangat kondisional, hendaknya disesuaikan dengan ketersediaan prasarana dan sarana keamannan serta kenyamanan “berkendaraan umum” dan/atau “bersepeda” di luar kampus.

 

Akhirnya komitmen manajemen dan pengawasan adalah tangan terakhir yang menentukan keberhasilan implementasi transportasi hijau. Penyediaan alat transporatsi ramah lingkungan bagi civitas academica  serupa mobil listrik, bus umum yang memuat banyak penumpang, pinjaman sepeda, penempelan stiker parkir dan lain-lain merupakan insentif bagi civitas academica yang mendukung program hijau. Jadi selayaknya mereka dibebaskan dari pembiyaan angkutan. Di lain pihak, pelarangan operasi ojek, pengurangan penggunaan kendaraan bermotor dalam kampus merupakan peraturan yang harus ditegakkan dengan sanksi yang berat jika ada pelanggaran. Penegakkan hukum ini harus dilakukan secara sistemik, terus-menerus tanpa perkecualian sehingga semua civitas academica dan staff kependidikan maupun tamu pengunjung IPB memperoleh persepsi positif yang sama.

 

PENUTUP

Gaya hidup modern berkembang seiring dengan permasalahan lingkungan akibat pemborosan penggunaan sumber daya alam. Karena adanya degradasi lingkungan serta adanya perilaku manusia yang tidak ramah pada lingkungan salah satunya telah berdampak pada pemanasan global. Karena itu insan yang hidup di era modern tidak hanya memerlukan pendidikan yang tinggi saja, tetapi seharusnya mampu berpikir dan berperilaku secara cerdas (smart).  Saat ini “konsep hijau” sudah menjadi bagian dari gaya hidup modern. Tetapi yang tidak kalah penting adalah “implementasi gerakan hijau” sudah harus menjadi bagian dari kebutuhan hidup. Implementasi gerakan hijau ini dapat memberdayakan lanskap yang ada mampu menyediakan jasa ekosistem yang memadai mulai dari memproteksi sumberdaya tanah, air dan udara, juga mampu mengkonservasi keanekaragaman hayati, meningkatkan produktivitas lahan, serta meningkatkan keindahan lanskap. Oleh karena itu marilah kita mulai dari lingkungan kita sendiri, lingkungan rumah dan lingkungan kampus IPB sebagai green campus, dan akhirnya mendukung mimpi-mimpi kita mewujudkan ke green city, gree island dan green nation.

 

Bogor, 28 Juni 2018

 

Hadi Susilo Arifin

Guru Besar di Bidang Ekologi dan Manajemen Lanskap

Divisi Manajemen Lanskap, Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, IPB

 

POTENSI DAN PRODUKSI SAGU DI INDONESIA

Prof Dr Ir H MH Bintoro, Magr

Tanaman sagu merupakan tanaman tropis yang menyebar di dataran rendah Asia Tenggara dan Malanesia, yang terletak antara lintang 10o LU dan 100 LS (Gambar 1), serta hingga ketinggian 700 m dpl (Flach et al 1986). Tanaman sagu menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, terutama tanaman sagu paling banyak menyebar di pulau Papua Barat dan Papua dengan luasan masing-masing yaitu 510.213 dan 4.749.424 Ha (Tabel 1) (Flach 1997; UP4B 2014).

Gambar 1. Sebaran sagu di dataran rendah Asia Tenggara dan Malanesia

Tabel 1. Sebaran Sagu di Indonesia

Daerah Luas (ha)
Maluku 60 000
Sulawesi 30 000
Kalimantan 20 000
Sumatera 30 000
Kepulauan Riau 20 000
Kepulauan Mentawai 10 000
Papua 4 749 424
Papua Barat 510 213
Lain-lain 150 000
Total 5 519 637

 

Wilayah distribusi luasan sagu di Provinsi Papua Barat (Tabel 2) Meliputi distrik Fakfak, Kaimana, Manokwari, Raja Ampat, Sorong, Sorong Selatan, Teluk Bintuni, dan Teluk Wondama dengan luasan masing-masing yaitu 34.485 Ha, 70.765 Ha, 5.868 Ha,  3.052 Ha, 148.004 Ha, 212.353 Ha, dan 5.672 Ha (UP4B 2014). Distribusi luasan sagu di Provinsi Papua (Tabel 3) meliputi distrik Asmat, Boven Digoel, Dogiyai, Intan Jaya, Jayapura, Mappi, Mamberamo raya, Merauke, Mimika, Nabire, Nduga, Puncak, Puncak Jaya, Sarmi, Tolikara, Waropen, dan Yahukimo dengan luasan massing-masing yaitu 949.959 Ha, 42.673Ha, 20.992 Ha, 109.725 Ha,  74.908 Ha, 818.178 Ha, 371.504 Ha, 1.232.151 Ha,  382.189 Ha, 219.362 Ha, 576 Ha, 59.809 Ha, 93.827 Ha, 144.321 Ha, 25.611 Ha, 152.509 Ha, dan 51.031 Ha.

Tabel 2. Distribusi sagu di Papua Barat

No Distrik Luas Sagu
ha %
1 Fakfak 34.485 6,8
2 Kaimana 70.765 13,9
3 Manokwari 5.868 1,2
4 Maybrat 0 0
5 Raja Ampat 3.052 0,6
6 Sorong 30.014 5,9
7 Sorong Selatan 148.004 29
8 Tambrauw 0 0
9 Teluk Bintuni 212.353 41,6
10 Teluk Wondama 5.672 1,1
11 Kota Sorong 0 0
Total 510.213 100

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 3. Sebaran sagu dii Papua

No Distrik Luas Sagu
ha %
1 Asmat 949.959 20,0
2 Biak Numfor 0 0
3 Boven Digoel 42.673 0,9
4 Dogiyai 20.992 0
5 Intan Jaya 109.725 2,3
6 Jayapura 74.908 1,6
7 Jayawijaya 0 0
8 Keerom 0 0
9 Kepulauan Yapen 0 0
10 Lanny Jaya 0 0
11 Mappi 818.178 17,2
12 Mamberamo Raya 371.504 7,8
13 Merauke 1.232.151 25,9
14 Mimika 382.189 8,0
15 Nabire 219.362 4,6
16 Nduga 576 0,01
17 Paniai 0 0
18 Pegunungan Bintang 0 0
19 Puncak 59.809 1,3
20 Puncak Jaya 93.827 2,0
21 Sarmi 144.321 3,0
22 Supiori 0 0
23 Tolikara 25.611 0,5
24 Waropen 152.509 3,2
25 Yahukimo 51.031 1,1
26 Yalimo 0 0
27 Kota Jayapura 0 0
Total 4.749.325 100

Potensi tanaman sagu

Tanaman sagu di Indonesia memiliki potensi besar seperti luasan yang sangat besar, sumber karbohidrat yang tinggi, produktivitas yang tinggi, dan dapat dijadikan berbagai macam produk turunan. Tanaman sagu di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia, karena lebih dari 85% total areal sagu dunia berada di Indonesia terutama di Papua dan Papua Barat. Papua dan Papua Barat merupakan daerah yang paling potensial, karena hanya perlu melakukan pemanenan dan penataan menjadi kebun sagu. Potensi lain yang mendukung keunggulan sagu yaitu sagu mengandung karbohidrat tinggi dengan kandungan pati kering 200-400 kg/ pohon dan jika dilakukan pemanenan dalam 1 ha akan menghasilkan 20-40 ton pati/ha/tahun. Produk pati dari sagu juga dapat dijadikan produk turunan ain seperti gula cair dan lain-lain.

Produksi pati sagu di Indonesia sangat besar dan beragam. Menurut Hengky et al (2016), produksi sagu di Kab. Kepulauan Meranti sebesar 135-355 kg/pohon. Sagu jenis Phara mampu memproduksi pati sebesar 975 kg/pohon. Menurut Dewi et al (2016) hutan sagu campuran di Sorng Selataan mampu memproduksi pati sebesar 38 ton/ha/tahun. Menurut Bintoro et al (2017) bahwa produksi pati di Kab. Mimika sebesar 14-26 ton/ha/tahun.

Sagu lebih unggul dari padi untuk memberi makan dunia. Sagu dalam satu hektar dapat menghasilkan 20-40 ton pati, jika dijumlahkkan dengan luas areal sagu sebesar 5 juta Ha akan menghasilkan 100-200 juta ton. Padi membutuhkan 12 juta hektar untuk menghasilkan 30 juta ton, sedangkan sagu menghasilkan  30 juta ton pati hanya dalam 1 juta ha. Kebun sagu dengan luasan 1 juta hektar memberi makan 200 juta jiwa, jika dalam 5 juta hektar sagu dapat memberi makan  1 milyar jiwa. Sagu dapat memenuhi kebutuhan orang yang kelaparan di dunia yang berjumlah 868 juta jiwa yang dilaporkan oleh FAO.

Pemanfataan sagu  bukan hanya sekedar  dijadikan pati (Gambar 2), banyak bentuk produk turunan sagu lain seperti glukosa, dextrin, protein sel tunggal, bubur kayu, dan ampas. Pemanfaatan pati  sagu dapat dijadikan beras analog, industri makanan, dan bahan baku industri. Glukosa dihasilkan oleh pemanfaatan pati dapat dimanfaatkan untuk dijadikan ethanol dan fruktosa dalam industri makanan dan minuman, selain itu glukosa dapat dijadikan asam organik unntuk industri kimia & farmasi dan energi. Sagu juga dimanfaatkan untuk menjadi dextriin  yang dimanfaatkan dalam industri kayu, kosmetik, farmasi, pestisida. Protein sel tunggal juga dapat dihasilkan oleh sagu untuk industri  makanan. Pemanfaatan sagu berupa bubur kayu dan ampas masing-masing dimanfaatkan untuk industri kertas & bahan bakar dan pembuatan pupuk, biogas, dan industri makanan ternak.

 

Gambar 2. Pemanfaatan sagu

 

Hutan sagu yang sangat potensial perlu ditata dengan menata jarak antar sagu dan membuat jalur panen untuk memudahkan pemanenan. Sagu ditata dengan jarak antar sagu sebedar 8 X 8 m. Jalur panen dibuat di sela-sela tanaman sagu dengan pengaturan yaitu jalur panen-pelepah kering-jalur panen (Gambar 3).

 

Gambar 3. Pengelolaan hutan sagu

 

Pengembangan sagu  sering mengalami kendala, jika sagu dilakukan penanaman pada lahan kosong. Kendala tersebut berupa waktu panen yang cukup lama, teknik budidaya sagu yang belum intensif, dan pengelolaan kebun belum maksimal. Semua kendala tersebut menghambat petani untuk mau melakukan budidaya tanaman sagu, karena saat menunggu panen yang terlalu lama mengaibatkan pendapatan petani menjadi tidak ada.

Kendala yang dialami petani pada awal penanaman sagu dapat diatasi dengan melakuakan sistem tumpang sari. Tumpang sari memberi manfaat berupa lapangan pekerjaan yang meningkat, pengelolaan kebun sagu yangintensif, sistem “ijon” pada kebun sagu masyarakat menurun, perambahan bakau menurun, pembukaan lahan dengan cara pembakaran menurun, dan penghasilan tambahan meningkat.

Budidaya tanaman sagu dengan sistem tumpang sari dapat dilakukan dengan beberapa tanaman, ikan, dan ternak yang akan meghasilkan profit yang cukup besar. Budidaya tumpang sari sagu dengan tanaman dapat dilakukan dengan menanam jagung manis, jagung semi, jagung pipil, cabai rawit, cabai merah besar, kangkung, dan semangka  dengan profit masing-masing sebesar Rp 2.774.400, Rp 4.368.000, Rp 2.995.230, Rp 7.200.000, Rp 2.625.000, Rp 540.000, dan Rp 490.000. Budidaya  sagu dan ikan dapat dilakukan dengan mebudidayakan ikan nila, patin, dan lele dengan profit masing-masing sebesar Rp 13.250.000, Rp 12.500.000, dan Rp 15.625.000. Sagu juga dapat dibudidayakan dengan ternak berupa magot BSF dengan profit Rp 2.060.000 dan itik petelur dengan profit Rp.9.000.000.

Sagu saat masih banyak terkendala permasalahan-permsalahan. Permasalahan tersebut diantaranya adalah (1) sagu belum ditentukan sebagai komoditi prioritas, (2) penanggung jawab komoditas sagu di lapangan Kementrian Pertanian atau Kementerian LHK, (3) infra struktur yang belum memadai seperti jalan, listrik, pelabuhan, dan lain-lain untuk mengakses tegakan sagu, (4) regulasi bagi investor yang tidak menggairahkan antara  lain HPH/HTI vs Hak Ulayat, saat panen harus minta izin lagi, perhitungan pajak berdasarkan total batang sagu bukan berdasarkan pati/tepung sagu yang dihasilkan, (5) peralatan prosesing yang digunakan petani sagu masih sangat sederhana, (6) air untuk prosesing masih seadanya di lapangan, (7) petani sagu menjual patii/tepung sagu basah yang mudah terjadi fermentasi, (8) jenis-jenis sagu unggul belum teridentifikasi secara menyeluruh dan tidak dimanfatkan secara maksimal dan berkelanjutan, dan kesadaran untuk pelestarian plasma nutfah sagu sangat rendah, sehingga banyak aksesi sagu yang belumdidaftarkan di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian-Kementan.

kesimpulan

Sagu merupakan tanaman yang memiliki potensi besar dan perlu diperhatikan. Swasembada (pangan, gula, dan energi) dan pemenuhan makanan bagi orang kelaparan di dunia mampu diwujudkan oleh Indonesia, jika potensi sagu dimanfaatkan dengan baik. Potensi produk turunan pati sagu yang beragam dan memiliki nilai ekonomi tinggi serta baik bagi kesehatan manusia.  Produksi pati  sagu Indonesia paling tinggi di dunia dan perlu manajemen pengelolaan hutan/kebun untuk keberlanjutan panen, sehingga perlu dukungan pemerintah terhadap sagu melalui regulasi mulai dari on farm dan off farm.

 

Daftar Pustaka

Bintoro HMH, Ahmad F, Nurulhaq MI, Pratama AJ. 2017. Identifikasi Sagu (Metroxylon spp.) di Kabupaten Mimika Provinsi Papua. Bogor(ID): Digreat Publishing

Dewi RK, Bintoro MH, Sudradjat. 2016. Karakter morfologi dan potensi produksi beberapa aksesi sagu (Metroxylon spp.) di Kabupaten Sorong Selatan. J. Agron. Indonesia. 44(1): 91-97.

Flach M. 1997. Sago Palm. Metroxylon sagu Rottb. Promoting the conservation and use of underutilizied and neglected crops. 13. Rome, Italy (IT): Institute of Plant Genetics and Crop Plant Research, Gatersleben International Plant Genetics Resources Institute.

Flach, M, Braber KD, fredrix MJJ,  Monster EM, Hasselt GAM. 1986. Temperature and relative humidity requirement of young sago palm seedlings, p. 139-143. In N. Yamada and K. Kainuma, (Eds.). The Third Int. Sago Symp. Tokyo-Japan. May 20-23. The Sago Palm Research Fund.

Novarianto H, Tulalo MA, Kumaunang J, Manaroinsong  E, Sulistyowati E. 2016. Seleksi dan pelepasan varietas Selatpanjang Meranti untuk pengembangan sagu. J. Metroxylon Indonesia. 1(1): 1-9.

Padi IPB3S Berkembang di Aceh Barat Daya

Varietas padi tipe baru IPB3S terus dikembangkan di Kabupaten Aceh Barat Daya (ABDYA), Provinsi Aceh. Melalui dukungan Program StartUp Industri Benih dari Kemenristekdikti, pada tahun 2018 ini di Kab ABDYA telah diproduksi benih label ungu dan benih sebar. Pada 2019, Bupati ABDYA mencanangkan produksi padi IPB3S ditanam seluas 3000 ha.

Sabtu, 9 Desember 2018, berlokasi di Kecamatan Babahrot, dilangsungkan panen benih IPB3S di lahan petani mitra Joint Operation (JO) AGH Seed Center Fakultas Pertanian IPB bersama PT Botani Seed dari PT Bogor Life Science and Technologi (BLST) yang merupakan perusahaan holding IPB.  Panen ini dihadiri Sekretaris Daerah, Ketua DPRK, Dandim, DanAL, Kadis Pertanian dan Pangan, para penyuluh pertanian, serta dari pihak IPB hadir Wakil Dekan Fakultas Pertanian Bidang Sumberdaya Kerjasama dan Pengembangan (Wadek SKP), Dr Hajrial –pemulia padi IPB3S, Ahmad Zamzami, MSi,  Ir Joangsyah dan Nazi, SP.  Acara ini dihadiri lebih dari seratusan petani dari berbagai kecamatan di wilayah Kabupaten ABDYA.

Kadis Pertanian dan Pangan, Drh Nasruddin, menyampaikan harapan agar padi IPB3S yang memang diminati petani dapat terus dikembangkan di Kabupaten ABDYA. “Kabupaten ABDYAmengharapkan kehadiran IPB untuk turut memajukan pertanian khususnya padi dan kesejahteraan petaninya” demikian juga harapan Bupati Akmal Ibrahim, SH, sebagaimana dalam sambutannya yang disampaikan Sekda, Drs Thamrin. Menyambut harapan tersebut, Wadek SKP Faperta Dr Ahmad Junaedi merespon dengan kesiapan IPB hadir di tengah-tengah para sahabatnya, para petani dan penyuluh Kabupaten ABDYA untuk meningkatkan produksi padi dan kesejahteraan petaninya. Wadek SKP juga menyemangati untuk bangga dan bersyukur menjadi petani, menjadi insan yang bermanfaat sebagai penghasil pangan untuk kehidupan manusia serta turut menjaga fungsi ekologi. Sementara itu, Dr Hajrial dengan akrab menjalin diskusi dengan petani dan memaparkan karakteristik padi tipe baru IPB3S dengan teknologi anjurannya.

Semoga sinergi yang dibangun di Kabupaten ABDYA ini dapat terus berkembang. Hal ini sejalan dengan semangat IPB-share, mewujudkan peran nyata IPB berkiprah dalam pembangunan bangsa, khususnya di wilayah Aceh, Provinsi paling Utara dan Barat Indonesia yang berjarak ribuan km dari tapak kampus IPB di Bogor. (AJu dan MRid).

EMPAT SYARAT KEBERLANJUTAN PEMBANGUNAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

_ Dr. Ir. Sudradjat, M.S

Staf Pengajar Departement Agronomi dan Hortikultura

Fakultas Pertanian IPB

Kepala Kebun Pendidikan dan Penelitian Kelapa Sawit IPB-Cargiil.

“Syarat-syarat lahan dapat ditanami sawit untuk mencapai produktivitas secara maksimal, yaitu kelapa sawit harus ditanam pada wilayah dengan curah hujan minimal 120 mm/bulan dan idealnya sekitar 2500 mm/tahun dengan penyebaran merata sepanjang tahun. Jadi, idealnya curah hujan 200 mm dan minimal 125 mm per bulan.”

“Komoditas sawit sebetulnya tidak merusakan lingkungan, tetapi penyebabnya adalah cara pembukaan lahan yang tidak memenuhi kaidah-kaidah ekologis, seperti membuka lahan dengan cara dibakar, tidak memperhatikan High Conservation Value pasti akan merusak lingkungan dan bukan hanya untuk kelapa sawit, tetapi berlaku untuk komoditas lainnya.”

Dalam usaha apapun dan dimanapun jika kita mengusahakan suatu komoditi maka harus menguntungkan secara ekonomi. Jika tidak menguntungkan kemungkinan tidak akan dapat terus berkembang, termasuk dalam agribisnis komoditas kelapa sawit. Kelapa sawit merupakan komoditi strategis yang sangat penting sebagai sumber devisa negara, sumber mata pencaharian masyarakat dan komoditi yang  menguntungkan pebisnis dan petani pekebun. Dilansir dari beritasosial.com, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan bahwa industri sawit memiliki kontribusi yang besar terhadap perekonomian nasional.

Continue reading “EMPAT SYARAT KEBERLANJUTAN PEMBANGUNAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT”

Membangun Faperta Yang Berdaya Saing Tinggi

Visi dan Misi Faperta mengarahkan bahwa pada tahun 2030 Faperta harus dapat menjadi lembaga pendidikan dan penelitian bidang pertanian yang bertaraf internasional, menghasilkan IPTEKS dan inovasi serta SDM yang berdaya saing global dan berkontribusi mengatasi berbagai tantangan bidang pertanian

Fakultas Pertanian (Faperta) adalah salah satu fakultas tertua di IPB. Faperta telah banyak menorehkan berbagai prestasi dalam pengembangan SDM berkualitas dan menghasilkan IPTEKS serta banyak menghasilkan inovasi untuk pembangunan nasional. Capaian ini karena Faperta IPB memiliki dosen dengan kualitas terbaik di Indonesia saat ini. Faperta IPB harus menghasilkan lulusan yang berdaya saing tinggi. Seperti diketahui bahwa sektor pertanian Indonesia saat ini menghadapi banyak masalah dan tantangan, baik on farm maupun off farm. Pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dan globalisasi pada umumnya memerlukan daya saing yang tinggi di berbagai bidang terutama di bidang SDM. Negara yang memiliki daya saing yang rendah akan menghadapi berbagai dampak negatif, baik dalam penguasaan sumberdaya,teknologi, inovasi, meningkatnya impor, termasuk impor tenaga kerja pertanian terdidik. Continue reading “Membangun Faperta Yang Berdaya Saing Tinggi”

Lahan Sawit Terdampak Aturan Gambut

Wawancara

Dr. Ir. Basuki Sumawinata, M.Agr

Lahan Sawit Terdampak Aturan Gambut

Gaya bicaranya tegas, lugas, dan meledak–ledak, ketika Buletin Faperta berkunjung ke ruang kerjanya. Dosen yang sekaligus pakar ilmu tanah yang masih aktif mengajar di Fakultas Pertanian ini, memaparkan penjelasan mengenai polemik gambut yang sedang hangat diperbincangkan banyak orang. Topik menarik yang dibahas sore itu, yakni soal Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 57 tahun 2016 tentang perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut, yang dampaknya meresahkan masyarakat yang telah menanam sawit di lahan gambut. Apalagi jika lahannya masuk ke dalam peta kawasan lindung gambut pada Kawasan Hidrologis Gambut (KHG). Restorasi kawasan lindung gambut di areal yang telah ditanami sawit akan banyak menemui masalah karena mengubah lahan sawit yang ditanam di lahan tersebut menjadi hutan lindung. Masalah makin sulit jika sejatinya lahan sawit itu ternyata berada di tanah mineral tetapi dimasukkan ke dalam kawasan lindung gambut. Ada 4 regulasi penerapan peraturan tentang perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut seolah-olah terlalu dipaksakan. Empat peraturan tersebut adalah (1) luas lahan yang perlu dijadikan kawasan lindung sebesar 30% dari KHG, (2) kedalaman muka air harus 0,4 meter, (3) lahan gambut 3 meter dan (4) adanya pirit di permukaan tanah, menjadi persoalan dan perdebatan saat ini. Bagaimana pandangan seorang pakar ilmu tanah Divisi Pengembangan Sumberdaya Fisik Lahan melihat regulasi PP Nomor 57/2016 tersebut, berikut petikan wawancaranya; Continue reading “Lahan Sawit Terdampak Aturan Gambut”

Program Pengembangan Departemen Arsitektur Lanskap Lima Tahun Mendatang

Program Internasional dan Nasional disusun dalam rangka mendukung perencanaan dan perkembangan jangka panjang Departemen Arsitektur Lanskap untuk lima tahun mendatang.  Adapun program-program tersebut beberapa merupakan lanjutan dari program sebelumnya dan juga ada yang program baru.  Semua program tersebut  melibatkan seluruh civitas akademika baik dosen maupun mahasiswa di Departemen Arsitektur Lanskap.

PROGRAM INTERNASIONAL

  • Akreditasi Internasional dari IFLA
  • Double Degree dengan Chiba University sejak 2010 dan Kyoto University mulai 2017.
  • Joint Degree dengan Chiba University mulai 2018.
  • Credit Earning/Student Exchange, baik untuk mahasiswa pasca sarjana Arsitektur Lanskap dan juga program sarjana Arsitektur Lanskap berbagai negara seperti : Malaysia, Thailand, Jepang.
  • Joint Studio Workshop, melibatkan mahasiswa asing dari berbagai negara di Asia untuk menyelesaikan suatu proyek bersama dengan mahasiswa Departemen Arsitektur Lanskap, salah satunya kegiatan ILASW (International Landscape Architecture Student Workshop) yang telah dilaksanakan sejak tahun 2012.
  • Overseas Fieldtrip, melibatkan mahasiswa dan dosen melalui kegiatan kuliah lapang ke berbagai negara di ASEAN, diharapkan melalui kegiatan ini dapat membuka wawasan mahasiswa tentang perkembangan arsitektur lanskap di negara lain. Kedepannya kegiatan ini bisa diperluas hingga ke negara-negara di Asia.
  • International Symposium, program ini sudah dilakukan untuk yang ketiga kalinya. International Symposium of Sustainable Landscape Development (ISSLD) tahun  2017 ini akan diadakan pada bulan November dengan mengusung tema Urban Resilience.  Hasil dari simposium ini akan diterbitkan dalam IOP proceeding yang terindek scopus.  Kegiatan simposium ini untuk mendorong dan memotivasi dosen dan mahasiswa di Departemen Arsitektur Lanskap untuk meningkatkan publikasi Internasional.

Continue reading “Program Pengembangan Departemen Arsitektur Lanskap Lima Tahun Mendatang”