Peran IPB University untuk Pengembangan Lahan Rawa bersama Kementan

Lahan rawa menjadi salah satu sumberdaya yang berpotensi besar meningkatkan produksi pangan dan meningkatkan pendapatan petani. Pembahasan mengenai optimalisasi lahan rawa untuk menunjang ketersediaan pangan nasional sudah banyak dilakukan. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Dr. Fadjry Djufry mengatakan pemerintah semakin memberi perhatian besar terhadap pertanian lahan rawa untuk mendukung ketahanan pangan nasional dan mewujudkan lumbung pangan dunia 2045. Hal tersebut dikemukakan dalam Talkshow daring “Ngobrol Asyik Pertanian Rawa Kita” yang digelar Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) pada Rabu (10/6).

“Berbicara tentang lahan rawa, aspek non teknis juga sangat menentukan. Tidak mungkin kita bisa membuka lahan rawa tanpa ada orang di sana. Di beberapa sentra rawa, petaninya sangat terbatas. Kultur masyarakat juga sangat menentukan keberhasilan pengembangan lahan rawa,” tutur Kepala Balitbangtan.

Luas lahan rawa di Indonesia berkisar antara 25-35 juta hektar dengan lahan gambut 13.34 juta ha. Lahan rawa tersebar di wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Baru sebagian kecil lahan rawa khususnya rawa pasang surut dimanfaatkan untuk lahan pertanian.

Memanfaatkan rawa sebagai  lahan pertanian yang sudah direvitalisasi bisa dimanfaatkan untuk berbudidaya selada, beternak sapi, kambing itik, dan juga budidaya ikan. Pola kombinasi komoditas ini disesuaikan dengan kondisi setempat dengan memanfaatkan inovasi terkini, maka penggunaan lahan rawa akan semakin efisien dan menguntungkan.

Dalam kesempatannya Dr. Suwardi, Dekan Fakultas Pertanian IPB University, Sekjen Perhimpunan Masyarakat Gambut Indonesia (HGI) mengatakan, bahwa Ketika akan memanfaatkan rawa sebagai lahan pertanian, maka pertama yang harus dilakukan adalah menata jaringan irigasi menjadi sangat penting dengan syarat air harus bergerak ke satu arah. Pengairan pada lahan rawa juga harus memiliki dua fungsi, yaitu sebagai saluran pengairan desa dan sebagai drainase untuk mengatur ketinggian muka air sekaligus mengeluarkan zat asam. Drainase juga bisa berfungsi sebagai jaringan transportasi. Pengaturan air yang baik akan mengeluarkan asam dari lahan sehingga lahan tidak masam dan tanaman dapat tumbuh tanpa gangguan asam.

Terkait Peranan Perguruan Tinggi untuk Pengembangan Rawa, ada dua hal peranan penting pertama, melakukan inovasi dan kedua menyediakan sumberdaya manusia. Pengembangan inovasi dikaitkan dengan teknologi untuk mengatasi permasalahan lahan rawa. Pengembangan sumberdaya di lahan rawa bisa dikaitkan dengan konsep kampus merdeka dan merdeka belajar yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Dengan dua semester bisa belajar di luar kampus, maka mahasiswa IPB siap bekerjasama dengan lembaga penelitian untuk melakukan penelitian bersama. Setelah mahasiswa lulus, kemudian dapat meneruskan penelitian dan proyek yang sudah dirintisnya,”Jelas Dr. Suwardi.

Talkshow daring yang sangat menarik ini menghadirkan beberapa pakar seperti Prof. Supiandi Sabiham (Ketua Himpunan Masyarakat Gambut Indonesia), Prof. Budi Mulyanto (Ketua Himpunan Ilmu Tanah Indonesia), Prof. Salampak Dohong (Pakar Gambut Universitas Palangkaraya), Prof. Azwar Ma’as (Pakar Gambut Universitas Gadjah Mada) dan Husnain MP, M.Sc, Ph.D

 

IKA Faperta IPB University Hadirkan Alumninya untuk Memotivasi Mahasiswa dan Alumninya

Ikatan Alumni Fakultas Pertanian (IKA Faperta) IPB University bersama Sabisa Farm IPB University menghadirkan seminar motivasi yang bertema “Become Impactfull Person.” Seminar secara daring yang digelar pada Selasa, (19/5) tersebut menghadirkan alumni Faperta IPB University, Jamil Azzani (CEO Kubik Leadership.

Ketua Umum IKA Faperta IPB University, Dr Ernan Rustiadi dalam pembukaannya mengatakan acara seminar daring ini berusaha memotivasi dan menata kembali kehidupan masyarakat di tengah wabah COVID-19 saat ini. “Di tengah wabah COVID-19 yang sedang berlangsung ini, kita ingin memulai dengan menata diri terlebih dahulu. Mudah-mudahan narasumber bisa memotivasi dan menyegarkan kita semua,” paparnya.

Terkait upaya IKA Faperta dalam membantu mahasiswa Faperta IPB University selama wabah COVID-19 ini, pihaknya telah menggalakkan program orangtua dan kakak asuh bagi mahasiswa yang kesulitan ekonomi terutama orangtuanya yang terdampak secara langsung.

Dekan Faperta IPB University, Dr Suwardi menyampaikan kegiatan seminar daring ini dilakukan karena kegalauan yang dialami mahasiswa akibat wabah COVID-19. Ia berharap webinar ini dapat memotivasi dan menyegarkan kembali semangat mahasiswa yang terkena dampak COVID-19 secara langsung.

“Kami juga telah mendata mahasiswa yang tidak pulang dan mengalami kesulitan secara langsung akibat wabah COVID-19, sehingga mahasiswa yang berada pada garis merah, maka itu yang didahulukan mendapat bantuan,” papar Dr Suwardi.

Sementara itu, Jamil Azzaini memberikan motivasi dari buku yang ia terbitkan dengan judul ON. Ia menyebutkan untuk bisa tumbuh sedikitnya ada empat “ON” yang harus dimiliki oleh seseorang. Empat “ON” tersebut adalah vision, action, passion dan collaboration.

“Vision yang saya maksud bukan tentang rumah mewah maupun mobil mewah, tapi yang saya sebut vision adalah apa impian kehidupan yang ingin diwujudkan. Jangan sampai hidup itu asal mengalir seperti air,” papar Jamil.

Lebih lanjut, penanggungjawab program Mentoring Leader Himpunan Alumni (HA) IPB University itu menjelaskan vision adalah energi untuk terus tumbuh. Menurutnya, vision itu penting untuk masa depan terutama bagi seorang pemimpin. Sedikitnya ada empat parameter visi yaitu sukses mulia, kongret, pesonal dan emosional.

“Visi yang kita rancang tidak hanya untuk kehidupan dunia, tetapi visi tersebut harus mencakup kehidupan di akhirat kelak,” tambahnya.

Ia juga menekankan visi yang sudah dirancang harus kongkret sehingga bisa dilakukan dan bisa dicapai. Oleh karena itu visi harus bisa terealisasi dengan baik karena visi tersebut dirancang secara konkrit. (RA)

Keyword: IKA Faperta, alumni IPB, Faperta IPB

Faperta IPB University Gelar Webinar Tentang Pentingnya Komoditas Sagu sebagai Bahan Pangan

Sagu merupakan salah satu komoditas pangan penting bagi masyarakat Indonesia terutama masyarakat di kawasan timur Indonesia. Namun, sejak pemerintah menetapkan beras sebagai bahan pangan nasional, eksistensi sagu saat ini mulai bergeser dan tidak diminati.

Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) IPB University, Dr Suwardi mengatakan sagu berpotensi menjadi pangan fungsional pengganti beras terutama ketika ada musibah seperti saat ini. Tidak hanya itu, sagu juga memiliki kadar glikemik yang rendah sehingga bagus untuk dikonsumsi oleh penderita diabetes.

Hal serupa juga disampaikan oleh dosen IPB University dari Departemen Agronomi dan Hortikultura, Prof Dr Ir HMH Bintoro, MAgr pada Webinar yang diadakan oleh Faperta IPB University, 14/5. Ia menjelaskan sagu merupakan komoditas pertanian asli Indonesia yang berpotensi sebagai bahan pangan alternatif dan sebagai bahan agroindustri.

“Sebaran tanaman sagu di Indonesia berada di Kalimantan Barat, Riau, Sulawesi Tenggara, Maluku dan Papua. Dari semua daerah tersebut produksi terbesar masih dipegang oleh Papua,” papar Prof Bintoro.

Lebih lanjut ia menjelaskan, komoditas sagu dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan seperti beras analog, industri makanan, bahan baku industri seperti industri kertas, bahan bakar, kosmetik, farmasi dan pestisida.

Terkait sagu berpotensi sebagai bahan baku industri, Dwi Asmono, PhD (PT. Sampoerna Agro, Tbk) menjelaskan sagu dapat digunakan untuk bahan membuat pasta, mie, kue, bakso, tekstil, krim kosmetik, bioplastik, kertas, lem, dan bioetanol.

“Sedikitnya ada tiga potensi sagu sebagai bahan baku pangan dan non pangan, yaitu untuk kebutuhan domestik, ekspor maupun untuk pangan substitusi impor,” papar Asmono.

Ia menjelaskan, kadar protein tepung sagu sangat rendah jika dibandingkan dengan tepung gandum maupun tepung beras. Namun demikian, sagu memiliki kadar glikemik rendah sehingga cocok dikonsumsi oleh penderita diabetes. Tidak hanya itu, sagu juga memiliki kadar gluten rendah sehingga baik untuk kesehatan.

“Sagu ini juga cepat mengenyangkan, jadi dengan makan sedikit saja, maka akan cepat kenyang, kelebihan ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat yang obesitas,” tutup Asmono. (RA)

Keyword: dosen IPB, sagu, Faperta IPB, beras analog, bioetanol

click link : Berita opini di media massa

GULMA BISA MENJADI OBAT ATAU SAYURAN

Kita sekalian mungkin sudah terbiasa dengan istilah gulma, tetapi sebenarnya tidak ada tumbuhan yang tidak berguna.  Istilah gulma dipakai untuk tumbuhan yang tumbuh di tempat yang tidak kita inginkan, tentunya dari sudut pandang manusia.  Misalnya genjer tumbuh di pertanaman padi, padahal genjer memiliki kegunaan sebagai sayuran.

Semua jenis tumbuhan sebenarnya memiliki kegunaan seperti sebagai sumber pangan, sandang, obat, tanaman hias, sayuran dan lain-lain.  Dari sudut pandang ekologi setiap organisme memiliki ruang hidup tersendiri atau disebut ‘niche’ dan mempunyai fungsi masing-masing yang berhubungan satu sama lainnya didalam ekosistem.

Daerah tropis merupakan daerah dengan iklim tropis yang memiliki ekosistem alami salah satunya berupa hutan hujan tropis yang dicirikan dengan keanekaragaman jenis tumbuhan yang sangat tinggi.  Indonesia merupakan salah satu negara tropis yang memiliki karakteristik ini.  Selain itu Indonesia merupakan salah satu pusat asal tanaman di dunia dengan keragaman jumlah species tumbuhan diperkirakan lebih dari 20,000 species.

Manusia memakai hanya sebagian kecil jumlah tumbuhan yang ada, sebagian diubah menjadi tanaman yang diusahakan didalam agroekosistem, yang lain diambil dari alam dan yang sisanya yang masih belum dimanfaatkan.  Jenis-jenis yang tidak dimanfaatkan atau yang dimanfaatkan tetapi tidak diinginkan karena tumbuh di tempat yang tidak kita inginkan inilah yang menjadi kelompok gulma.

Pertanian yang dikembangkan saat ini lebih mengacu pada pertanian daerah subtropis yang lebih seragam atau yang disebut sebagai sistem monokultur.  Bentuk pertanian ini sebenarnya kurang sesuai dengan kondisi daerah tropis yang dicirikan dengan keanekaragaman hayati yang tinggi.  Hal inilah yang kemudian menyebabkan pada pertanian yang diusahakan sering banyak ditumbuhi oleh banyak jenis gulma yang tidak diinginkan.

Mengacu pada setiap species memiliki fungsi dan arti di biosfir ini, maka dapat dilihat bahwa pada jenis-jenis pertanaman yang diusahakan pada jenis tanah tertentu sering tumbuh jenis gulma tertentu pula yang bisa dikatakan sebagai suatu paket jenis vegetasi di atas jenis tanah dan iklim tertentu dengan kondisi ekosistem tertentu.  Hal seperti ini malah menguntungkan karena pada saat pengendalian gulma bisa dilakukan secara manual dengan juga memanen gulma-gulma yang ada, sehingga pertanaman monokultur tertentu bisa menghasilkan produk lain yang tadinya dibuang, menjadi bagian yang dipanen.  Produk pertanian di suatu tempat tertentu menjadi lebih banyak jenisnya.

Pengambilan atau panen jenis-jenis gulma menjadi tanaman yang diproduksi pada pertanaman tertentu, tentunya memerlukan pemahaman dan pengetahuan mengenai jenis-jenis tumbuhan tersebut sehingga bisa dimanfaatkan sebagai misalnya sebagai sayuran fungsional atau obat.

Beberapa contoh-contoh gulma yang dapat kita manfaatkan sebagai produk lain dari pertanian kita disajikan di bawah ini, sehingga istilah gulma dapat kita kurangi pemakaiannya karena kita mengubah tumbuhan yang tadinya dianggap sebagai gulma menjadi tanaman yang kita manfaatkan.

Pakar Teknologi Benih IPB University Meninggal Dunia

Rabu, 22 April 2020, warga IPB University merasakan duka yang sangat mendalam atas meninggalnya Prof Dr Ir Memen Surahman, MScAgr, dosen Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian. Prof Memen meninggal pada 22 April 2020 pukul 15.30 WIB di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bogor.

Rektor IPB University, Prof Dr Arif Satria menyatakan rasa duka yang mendalam. “IPB University sangat kehilangan salah satu putra terbaiknya. Almarhum telah melahirkan karya-karya inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Semoga ini menjadi amal soleh. Semoga beliau husnul khotimah dan mendapat tempat terbaik di sisi Allah, “ ungkap Rektor.  Ditambahkannya,  “Selama ini IPB University sudah melakukan langkah-langkah maksimal untuk mencegah warga IPB University dari penyakit dengan sejumlah protokol yang telah dijalankan. Juga kepada almarhum, IPB University sudah berusaha memberikan pelayanan maksimal dengan bekerja sama dengan rumah sakit”, ungkap Rektor.

“Karya-karya Prof Memen dalam inovasi perbenihan perlu diteruskan dan dikembangkan. Legacy ini sangat penting untuk memajukan pertanian Indonesia,” ujar Prof Arif.

Prof Dr Ir Memen Surahman dilahirkan di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, 28 Juni 1963. Ia lulus sebagai Sarjana di bidang Teknologi Benih, Fakultas Pertanian IPB University tahun 1987, lulus Magister di bidang Agronomi dari Georg-August-University, Goettingen, Jerman tahun 1993. Tahun 2001 lulus dengan menyandang gelar Ph.D. (Doktor) dari Georg-August-University, Goettingen, Jerman di bidang Genetika Molekuler.

Selama perjalanan karirnya, ia telah membimbing 163 mahasiswa baik program sarjana, magister maupun doktor, serta banyak berkiprah dalam berbagai penelitian yang terkait produksi dan penanganan benih, bioteknologi benih, analisis kualitas benih, politik pertanian, hingga sistem pertanian terpadu.

Prof Memen pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Inkubator Bisnis dan Pengembangan Kewirausahaan (incuBie) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University tahun 2011-2018. Kiprahnya di bidang kewirausahaan dan pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) telah memberikan banyak manfaat bagi masyarakat. Di tahun 2013, ia menggagas sistem pemasaran secara online atau e-market untuk menggenjot omzet puluhan UMKM) binaan incuBie. Di masa kepemimpinannya incuBie banyak dijadikan sebagai rujukan oleh perguruan tinggi maupun instansi lainnya di Indonesia dalam pengembangan dan pendampingan UMKM.

Beragam bimbingan teknis (bimtek) kewirausahaan dipandunya untuk membantu tumbuh dan berkembangnya UMKM mulai dari perizinan usaha bagi UMKM, pengurusan pangan industri rumah tangga (PIRT), hingga sistem pemasarannya.

Almarhum juga pernah menjadi Ketua Tim Pengembangan Kedelai dengan Teknologi BJA (Budidaya Jenuh Air), Kerjasama LPPM IPB University dengan Kementan-RI (2016-2017), Ketua Tim Pendampingan Pengembangan Benih Padi IPB-3S di berbagai daerah (2016-2017), Penggagas sekaligus Pelaksana Konsep KEP (Komunitas Estate Padi) LPPM IPB University di berbagai daerah (2016-2017) dan Pembina Penelitian Institusi Agromaritim (PIAmar4.0) LPPM IPB University sejak tahun 2019.

Prof Memen juga aktif berkiprah di berbagai organisasi profesi diantaranya Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi), Perhimpunan Pemuliaan Indonesia (PERIPI), Perhimpunan Hortikultura Indonesia (PERHORTI), dan Society for the Advancement of Breeding Research in Asia and Oceania (SABRAO).

Dua buah buku pernah ditulisnya, masing-masing berjudul Kebijakan Perbenihan Padi Masa Depan (Tahun 2015) dan Kedelai dari Pasang Surut “Teknologi dan Pendampingan” (Tahun 2018).

Selamat jalan Prof Memen Surahman, jasamu dalam mencerdaskan anak bangsa akan tetap dikenang, baik oleh peserta didikmu maupun kolega-kolegamu dan akan menjadi amal soleh yang akan menghantarkanmu ke Surga.

Source Person : Dr. Arif Satria (Rektor IPB University)

Pakar Teknologi Benih IPB University Meninggal Dunia

Hari ini Kamis, 2 April 2020, warga IPB University merasakan duka yang sangat mendalam atas meninggalnya Dr Ir Asep Setiawan, MS, dosen Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian.

Dr Asep meninggal pada 2 April 2020 pukul 02.08 WIB di Rumah Sakit Azra Bogor. Rektor IPB University, Prof Dr Arif Satria menyatakan rasa duka yang mendalam. “IPB University sangat kehilangan salah satu putra terbaiknya. Almarhum telah melahirkan karya-karya inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Semoga ini menjadi amal soleh. Semoga beliau husnul khotimah dan mendapat tempat terbaik di sisi Allah, ” ungkap Rektor. Dr Ir Asep Setiawan dilahirkan di Malang, Jawa Timur, 16 September 1962. Ia lulus sebagai Sarjana di bidang Teknologi Benih,

Fakultas Pertanian IPB University tahun 1986, lulus Magister Agronomi IPB University pada tahun 1993. Tahun 1999 lulus dengan menyandang gelar Ph.D. (Doktor) di bidang Ilmu Tanaman dan Pemuliaan Tanaman, University of Kiel, Jerman. Selama perjalanan karirnya, ia telah membimbing 92 mahasiswa baik program sarjana, magister maupun doktor, serta banyak berkiprah dalam berbagai penelitian yang terkait teknologi benih, pemuliaan dan bioteknologi tanaman. Dr Asep sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB University.

Dr Asep juga aktif berkiprah di berbagai organisasi profesi diantaranya Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi), Perhimpunan Pemuliaan Indonesia (PERIPI), American Society of Horticultura (ASHS) dan International Society of Horticultura (ISHS). Selamat jalan Dr Asep Setiawan, jasamu dalam mencerdaskan anak bangsa akan tetap dikenang baik oleh peserta didikmu maupun kolega-kolegamu dan akan menjadi amal soleh yang akan menghantarkanmu ke Surga. Semoga kita semua dapat terus menjaga kesehatan dan tetap menjalankan physical distancing.

Pakar Ubi Kayu IPB University Meninggal Dunia

Hari ini Kamis, 26 Maret 2020, warga IPB University merasakan duka yang sangat mendalam atas meninggalnya Dr Ir Nurul Khumaida, MSi, dosen Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian. Dr Nurul meninggal pada 26 Maret 2020 pukul 06.40 WIB. Almarhumah menderita kanker sejak tahun lalu. Rektor IPB University, Prof Dr Arif Satria menyatakan rasa duka yang mendalam. “IPB University sangat kehilangan salah satu putri terbaiknya. Almarhumah telah melahirkan karya-karya inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Semoga ini menjadi amal soleh. Semoga beliau husnul khotimah dan mendapat tempat terbaik di sisi Allah, ” ungkap Rektor.

 

Dr Ir Nurul Khumaida dilahirkan di Malang, Jawa Timur, 19 Juli 1965. Ia lulus sebagai Sarjana dari Jurusan Agronomi, Fakultas Pertanian IPB University tahun 1989, lulus Magister Agronomi IPB University pada tahun 1994. Tahun 2002 lulus dengan menyandang gelar Ph.D. (Doktor) di bidang Pertanian dan Biologi Lingkungan, Tokyo University, Jepang. Selama perjalanan karirnya, ia banyak berkiprah menjadi seorang pendidik/dosen dan peneliti di Departemen Agronomi dan Hortikultura. Dr Nurul adalah sosok yang dinamis dan sangat aktif dalam berbagai penelitian yang terkait tanaman pangan diantaranya singkong, jawawut dan tanaman obat. Bidang minat penelitian mencakup semua aspek perbanyakan massa menggunakan teknik kultur jaringan, peningkatan tanaman, fisiologi, pengembangan kultivar, karakterisasi molekuler seperti kloning gen dan pengembangan penanda molekuler. Ragam prestasi di bidang riset berhasil diraih Dr Nurul diantaranya: Inovasi Indonesia Paling Prospektif Tahun 2014 dan 2017 oleh Business Innovation Center (BIC)- Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) dengan inovasi masing-masing berjudul “Varian Ubikayu Produksi Tinggi” dan “Varian Ubi Kayu Penunjang Industri Pangan”. Tak hanya itu, melalui rancangan berjudul “Produk Berbasis Ubi Kayu melalui One Stop Shopping Concept”, Dr Nurul berhasil lolos Program Calon Pengusaha Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT) Kemristekdikti di tahun 2017. Ini merupakan langkah Dr Nurul mengangkat ubi kayu menjadi produk yang bernilai bagi masyarakat.

 

Dr Nurul selanjutnya bekerjasama dengan alumni dan mahasiswa mengajukan proposal skema Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) dan lolos didanai Kemristekdikti tahun 2018. Pada program ini, kolaborasi alumni dan mahasiswa 3 dibina dan didampingi oleh Inkubator yang ditunjuk oleh Kemenristekdikti agar menjadi wirausahawan. Mereka mulai memutar roda bisnis di bidang ubi kayu. Dr Nurul tergabung dalam Catalyst (Cassava for life style) Agro Inovasi, yaitu tim yang fokus menekuni tentang ubi kayu, memulai riset menyeluruh tentang ubi kayu. Peneliti yang aktif di Asian Cassava Breeders Network (ACBnet) dan sebagai perwakilan Indonesia sebagai steering comitee untuk ACBnet ini, mendapat tantangan bersama tim untuk menghasilkan varietas baru ubi kayu. Dr Nurul diberi tantangan oleh reviewer Dikti saat monev hibah penelitian untuk mengupayakan varietas baru ubi kayu IPB.

 

Maka pada tahun 2014 dan melibatkan mahasiswa pascasarjana, ia mulai bergerak untuk berupaya menghasilkan varietas baru. Pendekatan yang digunakan adalah dengan memanfaatkan mutagen fisik yaitu iradiasi sinar gamma untuk meningkatkan keragaman. Pada tahun 2014 ia dan tim mendapat mutan potensial. Lebih dari 100 varian hasil iradiasi kita seleksi dan evaluasi. Ada sekitar 48 mutan potensial yang berhasil diperoleh saat itu dan selanjutnya dilakukan uji daya hasil lalu dilanjutkan dengan uji multilokasi. Dalam memperoleh varietas baru, tim ini mempertimbangan karakter-karakter penting terkait dengan produktivitas dan kandungan pati yang tinggi. Kalau produktivitas per hektar dan kandungan patinya tinggi, maka rendemen pati yang dihasilkan dari satu areal itu akan tinggi. Kemudian dipilih ubi kayu yang memiliki kandungan HCN (asam sianida) yang rendah untuk tujuan pangan dan HCN sedang-tinggi untuk tujuan industri. Proses pengembangan terus berlanjut, tim Catalyst ini juga menyediakan berbagai program pelatihan terkait budidaya ubi kayu berkelanjutan, pascapanen dan pengolahan produk antara pengolahan menjadi produk pangan serta teknik perbanyakan bibit tanaman secara in-vitro. Ini salah satu produk yang ditawarkan Catalyst, jadi tidak hanya menjual produk tetapi juga sharing teknologi melalui pelatihan. Publikasi yang dihasilkan selama riset mulai dari tahun 2009 sampai saat ini dapat dilihat di google scholar. Ini menunjukkan riset ubi kayu di IPB sudah relatif kuat. Dr Nurul pernah menjabat sebagai Sekretaris Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian IPB University Tahun 2003-2005 dan Kepala Sub Direktorat Agenda Riset dan Kajian Strategis, IPB University Tahun 2013- 2018. Dr Nurul juga aktif berkiprah di berbagai organisasi profesi diantaranya Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi), Perhimpunan Hortikultura Indonesia (Perhorti), Ikatan Ahli Ilmu Faal Indonesia (IAIFI), The Soc. for the Advancement of Breeding Research in Asia and Oceania (SABRAO) dan Perhimpunan Pemuliaan Indonesia (PERIPI). Selamat jalan Dr Nurul Khumaida, jasamu dalam mencerdaskan anak bangsa akan tetap dikenang baik oleh peserta didikmu maupun kolega-kolegamu dan akan menjadi amal soleh yang akan menghantarkanmu ke Surga.

Green Kampus IPB: Sosialisasi Pengolahan Sampah 3R dan Konservasi Air di Fakultas Pertanian

Tim Green Kampus IPB melakukanan kegiatan roadshow Sosialisasi Pengolahan Sampah di unit Kerja Fakultas Pertanian IPB, Jumat (13/3) di Ruang Sidang Faperta. Acara tersebut dihadiri sejumlah Pimpinan Fakultas, Ketua Departemen, Kepala Tata usaha, dan sejumlah Mahasiswa yang mewakili BEM dan HIMPRO serta petugas Kebersihan Fakultas Pertanian.

IPB University telah berpartisipasi dalam penilaian UI Green Metric World University Rankings (UIGMWUR) sejak tahun 2010. Pada tahun 2018 dan 2019, IPB menempati ranking 40 dunia. Di Indonesia IPB University menduduki ranking ke-2 setelah Universitas Indonesia. UIGMWUR merupakan pengakuan dunia terhadap praktek-praktek keberlanjutan di perguruan tinggi, yang sejalan dengan indikator Sustainable Development Goals (SDGs). Di IPB University, konsep keberlanjutan direalisasikan dalam program green campus yang sudah dijalankan sejak tahun 2015.

Sebagai komitmen bersama dalam mendukung Program Green Campus di IPB, Dr Ir Aceng Hidayat, M.T selaku Ketua Tim Implementasi Green Campus IPB University mengatakan  program Pengolahan sampah merupakan salah satu tujuan perubahan untuk membangun kesadaran dan tindakan kolektif sesuai dengan SK Rektor No. 205/IT3/LK/2015 tentang pelaksanaan gerakan Green Campus di Lingkungan IPB. “Mengacu salah satu tujuh kriteria Green Campus IPB yakni manajemen limbah dengan fokus pada tantang terberat yaitu sampah.” Ungkapnya.

Edukasi membangun kesadaran bahwa, sampah bagian dari kehidupan kita dan mengelola sampah merupakan kewajiban kita. Disamping pengelohan sampah, ada nilai ekonomi dari sampah yang kita hasilka dan juga sesuai dengan pendekatan 3R : Realisasi Circular Economy.

Selanjutnya menurut Dr Ir Ahmad Junaedi, M.Si selaku Wakil Dekan Bidang Sumberdaya Kerjasama dan Pengembangan Fakultas Pertanian mengatakan bahwa mendukung pelaksanaan gerakan Green Campus di Fakultas Pertanian seperti pemilahan sampah sudah berjalan di Faperta seperti program bank sampah atau seperti yang dilakukan mahasiswa BEM kami dengan kegiatan Faperta Tumpah,  mengajak seluruh civitas IPB untuk peduli terhadap sampah plastik, yaitu dengan menukarkan sampah dua buah botol plastik air mineral ukuran 600 ml dan satu buah botol ukuran 1500 ml dengan berbagai hadiah menarik yang telah disediakan.

Disamping itu, Bambang Kuntadi, S.P., M.M. dan Tim Teknis Green Campus IPB University menjelaskan konsep 3R yang akan diterapkan yaitu Reduce, Reuse dan Recycle mereduce timbulan sampah dengan membawa tumbler, tempat makan (paperless). Reuse : Pemanfaatan kembali sampah dengan contoh menggunakan sisi kertas yang masih kosong untuk menulis dan membawa tas belanja dari kain daripada plastik. Recycle : Pengolahan sampah menjadi produk lain. Contoh, biogas, pupuk cair dan pupuk padat.

Keyword : #greencampus #UIGMWUR#Pengolahansampah

 

 

Faperta IPB University Kembali Perkuat Kerjasama dengan Kabupaten Bulungan

Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) IPB University, Dr Ir Suwardi MAgr kembali menandatangani kerjasama dengan Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur pada Kamis (27/2) di Ruang Sidang Faperta, Kampus IPB Dramaga, Bogor. Tahun sebelumnya, Faperta IPB University dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulungan telah menyepakati beberapa kerjasama diantaranya pembangunan pertanian di daerah tersebut.

“Kerjasama ini merupakan perpanjangan kerjasama tahun sebelumnya supaya program-program tahun lalu bisa dilanjutkan tahun ini,” ungkap Dr Suwardi.  Ia pun berharap, Pemkab Bulungan dapat segera mengirimkan putra-putri terbaiknya untuk belajar di IPB University melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD). Dengan demikian, para mahasiswa tersebut dapat membantu mempercepat pembangunan di Kabupaten Bulungan.

 

 

 

Terkait dengan kampus merdeka, ia mengungkapkan, mahasiswa yang kuliah di IPB University dapat bekerjasama dengan pemda, perusahaan, maupun industri untuk melakukan kegiatan di masyarakat selama dua semester atau satu tahun.

“Saya kira Fakultas Pertanian IPB University memiliki kompetensi untuk membuat peta kesesuaian lahan per wilayah komoditas, misalkan komoditas kopi, padi, kakao maupun komoditas lainnya. Nah nanti para mahasiswa bisa membantu untuk membuat rancangannya,” ungkap Dr Suwardi.  Dengan memetakan potensi wilayah tersebut, diharapkan Pemkab Bulungan mampu mengembangkan pertanian di daerahnya. Di samping itu, dengan adanya pemetaan tersebut dapat memudahkan para peneliti dalam mengembangkan keilmuwannya.

Sementara itu, Bupati Bulungan, Sudjati menyampaikan kerjasama ini sesuai dengan visi dan misi Pemkab Bulungan yang berusaha menjadi pusat pangan yang berbasiskan nursery pada tahun 2021.   “Oleh karena itu kami menjalin kerjasama dengan berbagai pihak salah satunya dengan Faperta IPB University. Mudah-mudahan kerjasama ini dapat berjalan dengan baik dan lancar,” ungkap Sudjati.

Ia menerangkan, sampai saat ini Pemkab Bulungan telah berusaha meningkatkan pembangunan pertanian dengan menanam kakao dan kopi sebanyak 1500 hektar. Di samping itu pihaknya juga telah membangun nursery kurang lebih 80 hektar. Pada tahun ini, pihaknya juga akan membuka kawasan rawa sebagai lahan produktif sehingga visi sebagai pusat pangan dapat terwujud.

Beberapa program kerjasama yang akan dilakukan antara Faperta IPB University dengan Pemkab Bulungan pada tahun ini antara lain adalah pengujian budidaya cabai, padi dan bawang merah, pendampingan pendaftaran varietas lokal Padi  Ikan, kajian klaster pangan dan hortikultura serta pendampingan benchmarking klaster pangan. (RA)

Keyword: Faperta IPB, pertanian, Bulungan, BUD

Fakultas Pertanian IPB University Tandatangani Kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Buru, Maluku

Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) IPB University, Dr Ir Suwardi, MAgrbersama Bupati Kabupaten Buru, Ramly Umasugi menandatangani kerjasama pembangunan botanical garden di Kabupaten Buru, Maluku, Rabu (19/2) di Ruang Sidang Faperta IPB University. Botanical garden atau dalam bahasa daerah setempat disebut bumi lalen garden akan dibangun sebagai tempat wisata unggulan Kabupaten Buru.

Dekan Faperta IPB, Dr Suwardi menyambut baik kerjasama dengan Pemkab Buru tersebut. Ia menyampaikan pihaknya akan mendukung penuh terhadap upaya Pemkab Buru dalam pembangunan bumi lalen garden dan pembangunan pertanian di kabupaten tersebut.

“Untuk pembangunan pertanian, IPB University memiliki inovasi benih padi IPB 3S yang memiliki produktivitas mencapai 12 ton per hektar. Pemkab bisa memanfaatkan inovasi ini sehingga pertanian di daerahnya bisa lebih baik,” ungkap Dr Suwardi.

Ia juga menyebutkan, selain inovasi benih padi IPB 3S, IPB University juga memiliki inovasi pepaya Calina.

Adapun rencana pembangunan bumi lalen garden, Dr Suwardi mengaku sangat tepat telah menggandeng Faperta IPB University. Hal ini karena Faperta IPB University memiliki Departemen Arsitektut Lanskap yang memang berfokus dalam tata rencana kota hijau.

Ketua Departemen Arsitektur Lanskap Faperta IPB University, Dr Akhmad Arifin Hadi, SP MA menjelaskan bumi lalen garden berpotensi menjadi area Ruang Terbuka Hijau (RTH) di daerah tersebut. “Dengan konsep botanical garden ini, Kabupaten Buru bisa menyisihkan 30 persen kawasan lahannya untuk RTH sebagaimana peraturan yang mensyaratkan adanya RTH di setiap daerah minimal 30 persen,” paparnya.

Keberadaan bumi lalen garden, lanjut Dr Akhmad Arifin, dapat berfungsi sebagai kawasan pariwisata, konservasi ex situ flora dan fauna, pendidikan, penelitian dan sebagai jasa lingkungan.

Sementara itu, Bupati Buru, Ramly Umasugi menyampaikan ada dua potensi yang bisa dikembangkan di Kabupaten Buru. Potensi tersebut adalah pertanian dan pariwisata.

“Dahulu, masyarakat Buru mendapat suplai beras dari Makassar. Sekarang pemerintah pusat menantang supaya masyarakat tidak lagi bergantung terhadap beras dari Makassar. Oleh karena itu, kami perlu mengandeng IPB University untuk mengembangkan pertanian di tempat kami,” ungkapnya.

Ramly juga menyebutkan upaya pembangunan bumi lalen garden bertujuan menjadikan Kabupaten Buru menjadi wilayah yang memiliki tempat pariwisata unggulan. Pihaknya mengakui, terdapat banyak tanaman endemik sehingga berpotensi dijadikan sebagai tempat destinasi wisata. (RA)

Keyword: pertanian, bumi lalen garden, Faperta IPB, konservasi