All for Joomla All for Webmasters

Lahan rawa menjadi salah satu sumberdaya yang berpotensi besar meningkatkan produksi pangan dan meningkatkan pendapatan petani. Pembahasan mengenai optimalisasi lahan rawa untuk menunjang ketersediaan pangan nasional sudah banyak dilakukan. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Dr. Fadjry Djufry mengatakan pemerintah semakin memberi perhatian besar terhadap pertanian lahan rawa untuk mendukung ketahanan pangan nasional dan mewujudkan lumbung pangan dunia 2045. Hal tersebut dikemukakan dalam Talkshow daring “Ngobrol Asyik Pertanian Rawa Kita” yang digelar Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) pada Rabu (10/6).

“Berbicara tentang lahan rawa, aspek non teknis juga sangat menentukan. Tidak mungkin kita bisa membuka lahan rawa tanpa ada orang di sana. Di beberapa sentra rawa, petaninya sangat terbatas. Kultur masyarakat juga sangat menentukan keberhasilan pengembangan lahan rawa,” tutur Kepala Balitbangtan.

Luas lahan rawa di Indonesia berkisar antara 25-35 juta hektar dengan lahan gambut 13.34 juta ha. Lahan rawa tersebar di wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Baru sebagian kecil lahan rawa khususnya rawa pasang surut dimanfaatkan untuk lahan pertanian.

Memanfaatkan rawa sebagai  lahan pertanian yang sudah direvitalisasi bisa dimanfaatkan untuk berbudidaya selada, beternak sapi, kambing itik, dan juga budidaya ikan. Pola kombinasi komoditas ini disesuaikan dengan kondisi setempat dengan memanfaatkan inovasi terkini, maka penggunaan lahan rawa akan semakin efisien dan menguntungkan.

Dalam kesempatannya Dr. Suwardi, Dekan Fakultas Pertanian IPB University, Sekjen Perhimpunan Masyarakat Gambut Indonesia (HGI) mengatakan, bahwa Ketika akan memanfaatkan rawa sebagai lahan pertanian, maka pertama yang harus dilakukan adalah menata jaringan irigasi menjadi sangat penting dengan syarat air harus bergerak ke satu arah. Pengairan pada lahan rawa juga harus memiliki dua fungsi, yaitu sebagai saluran pengairan desa dan sebagai drainase untuk mengatur ketinggian muka air sekaligus mengeluarkan zat asam. Drainase juga bisa berfungsi sebagai jaringan transportasi. Pengaturan air yang baik akan mengeluarkan asam dari lahan sehingga lahan tidak masam dan tanaman dapat tumbuh tanpa gangguan asam.

Terkait Peranan Perguruan Tinggi untuk Pengembangan Rawa, ada dua hal peranan penting pertama, melakukan inovasi dan kedua menyediakan sumberdaya manusia. Pengembangan inovasi dikaitkan dengan teknologi untuk mengatasi permasalahan lahan rawa. Pengembangan sumberdaya di lahan rawa bisa dikaitkan dengan konsep kampus merdeka dan merdeka belajar yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

 

“Dengan dua semester bisa belajar di luar kampus, maka mahasiswa IPB siap bekerjasama dengan lembaga penelitian untuk melakukan penelitian bersama. Setelah mahasiswa lulus, kemudian dapat meneruskan penelitian dan proyek yang sudah dirintisnya,”Jelas Dr. Suwardi.

Talkshow daring yang sangat menarik ini menghadirkan beberapa pakar seperti Prof. Supiandi Sabiham (Ketua Himpunan Masyarakat Gambut Indonesia), Prof. Budi Mulyanto (Ketua Himpunan Ilmu Tanah Indonesia), Prof. Salampak Dohong (Pakar Gambut Universitas Palangkaraya), Prof. Azwar Ma’as (Pakar Gambut Universitas Gadjah Mada) dan Husnain MP, M.Sc, Ph.D

Leave A Comment

Translate »