All for Joomla All for Webmasters

Dalam mewujudkan ketahanan pangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pasca Pandemi Covid -19, perlu adanya langkah strategis, efektif dan efisien untuk memenuhi pangan nasional. Bangsa Indonesia dengan komoditas berbasis padi, saat ini produksinya mengalami penurunan dan kekurangan produktivitas, membuat bangsa ini bertumpu pada impor.

Hal tersebut dikemukakan Ketua Umum Peragi (Perhimpunan Agronomi Indonesia) Prof Andi Muhamad Syakir dalam pembukaan acara webinar Peragi Seri 3 pada Jumat (12/20).

“Seiring laju pertumbuhan penduduk 1,3 persen per tahun, Trend produksi padi pun tidak mengalami satu pertumbuhan, kita melihat padi di sawah di Pulau Jawa tahun ini mengalami penurunan,”Ungkap Ketum Peragi.

Pada ekosistem lain yang diandalkan seperti lahan kering, lahan rawa mengalami suboptimal. Perlu terapi khusus untuk meningkatkan produktivitas. Berbagai langkah telah ditempuh, untuk menghantarkan bangsa Indonesia menuju kemandirian pangan. Beras memang menjadi tumpuan, tetapi perlu peningkatan dengan lahan eksosistem seperti irigasi, sawah tadah hujan, lahan rawa dan lahan kering yang perlu dioptimalkan.

“Peragi sebagai organisasi profesi dalam hal ini akan menyumbangkan pemikiran dan memberikan kesadaran untuk bersama memikul, agar pangan konsisten mengalami peningkatan,” Tambahnya.

Dalam kesempatan diskusi kali ini sebagai narasumber, Dr Suwardi (Sekjen Perhimpunan Masyarakat Gambut Indonesia (HGI) / Dekan Fakultas Pertanian), membahas topik mengenai potensi pengembangan lahan untuk padi di Indonesia.

Pasca pandemi Covid – 19 kekhawatiran pemerintah akan ketidakcukupan pangan dapat dipahami. Negara yang selama ini mengekspor beras nampaknya akan menahan pangannya, oleh karena itu perlu mencari strategi meningkatkan produksi beras dari lahan kering dan lahan basah khususnya rawa.

“Perlunya adanya restorasi lahan marginal guna menambah produksi padi. Indonesia memiliki tiga tipe lahan marginal yakni lahan rawa dan gambut (Swamp and Peat lands), Tanah sulfat masam (Acid sulfat soils) dan Tanah Masam (Acidic soils).”Jelas Dr Suwardi.

Aplikasi pengembangan lahan padi dari lahan rawa dikembangkan dirawa lebak dengan membangun polder mikro dan makro yang akan memperoleh 200 ribu ha, reklamasi lahan padi dari gambut lahan pasang surut dan lahan gambut dengan tanah bawah gambut bahan aluvial memperoleh 100 ribu ha, lahan padi dari reklamasi tanah sulfat masam 200 ribu ha, padi gogo di lahan masam 1-2 juta ha dengan reklamasi lahan terlantar dan tumpangsari dan pengembangan padi baru di Patu 2-3 juta ha.

Dalam kesempatan khusus sebagai pembahas, Dedy Mulyadi anggota Komisi IV DPR RI menyampaikan mengenai restorasi pembentukan lahan baru, pencetakan sawah baru secara esensial bertujuan hanya satu yakni, untuk meningkatkan kapasitas kualitas ketersediaan bahan pangan di Indonesia khusunya padi. Sehingga pendekatan kearifan lokal yang perlu dihidupkan kembali dengan salah satu coontoh menyimpan padi di lumbung.

 

“Secara umum terjadi pergeseran piranti kebutuhan dasar, seperti terjadinya komersialisasi dalam tata kelola tanah atau seperti daerah penghasil beras justru tingkat kebutuhannya lebih tingi karena polanya dirubah, beras ditukar dengan uang yang dalam satu minggu uang sudah hilang dan kembali membeli beras produksi sendiri dengan harga mahal, “ Ungkap Dedy.

Webinar yang sangat menarik ini menghadirkan beberapa narasumber dan pembahas  seperti Husnain MP, M.Sc, Ph.D (Kepala Balai besar Sumber daya Lahan Pertanian-BBSDLP Balitbangtan Kementan), Dr Endang S. Tohaari (Anggota Komisi IV DPR RI), Dr Sarwo Edhy (Dirjen Prasrana dan Sarana Pertanian Kementan RI), Winarno Tohir, M.M (Ketua Kontak Tani Nelayan Indonesia-KTNA) dan Moderator Dr Sugiyanta (Sekjen PERAGI/Kepala Departemen AGH Faperta IPB University). (RR)

 

 

Leave A Comment

Translate »