All for Joomla All for Webmasters

Belajar Cupping Kopi Ala Dosen Faperta IPB

Saat ini kopi menjadi tren generasi muda Indonesia yang selalu berkembang. Mulai dari usaha kopi, penikmat kopi, dan para peracik kopi. Dosen Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (Faperta IPB) ternyata tidak kalah semangatnya dengan generasi muda untuk belajar mencintai kopi lebih dalam lagi. Wakil Dekan Bidang Sumberdaya dan Kerjasama Faperta IPB Dr. Ahmad Junaedi sebagai inisiator kegiatan cupping kopi mengundang sejumlah dosen untuk mengikuti pelatihan cupping kopi di Lounge Alumni IKA Faperta IPB pada Rabu 26 Desember 2018. Sedikitnya ada sepuluh dosen Faperta IPB yang mengikuti pelatihan cupping  kopi di Faperta IPB Dramaga.

Dekan Faperta IPB Dr. Suwardi pada kesempatan kali ini juga mengatakan bahwa ”Kita akan belajar cara membuat kopi yang baik dan benar, sehingga cara minum kopi pun harus benar dan juga bisa menyehatkan,” tuturnya.

Selain itu ia mengatakan bahwa dengan belajar meracik kopi dapat meningkatkan nilai jual produk kopi itu sendiri, Ia berharap dengan adanya pelatihan ini dapat memperkenalkan kopi-kopi di Indonesia kepada tamu-tamu yang datang ke Faperta IPB.

“Kalau ada tamu dari luar negeri yang datang, kita bisa menyuguhkan kopi khas Indonesia. Sehingga produk kopi ini dapat dikenal luas oleh masyarakat,” tambah Suwardi.

Pelatihan cupping kopi ini dipandu langsung oleh Firdaus Alam pemilik kedai kopi Mahataman dan juga sebagai peracik kopi andalan dan juga merupakan salah satu alumni Faperta IPB yang menggeluti bidang kopi. Menurutnya kegiatan cupping kopi ini dilakukan untuk mengenali cita rasa kopi yang akan disajikan. Karena tidak semua orang mampu meracik, maka diperlukan  pelatihan cupping kopi kepada yang sudah berpengalaman.

Perlu diketahui dalam penilaian dalam cupping kopi ada empat atribut utama yang harus diperhatikan, yakni fragrance, aroma, sweetness, dan body. Kriteria kopi yang baik adalah memiliki karakter yang kuat di setiap atribut meskipun sudah dicampur dengan bahan tambahan.

Proses cupping setidaknya boleh dikatakan sangatlah mudah, tetapi perlu beberapa proses  yang harus dijalani seperti,  sebelum kegiatan cupping dimulai, sampel atau kopi yang akan digunakan harus disangrai terlebih dahulu dan digiling dengan ukuran yang tepat. Dalam cupping, pertama kalo yang dikenali adalah menghirup terlebih dahulu aroma kopi bubuk yang belum diseduh.

Biji kopi yang sudah digiling kemudian ditambahkan air dengan perbandingan 1 banding 16. Setelahnya, kopi didiamkan selama 3-5 menit supaya tidak terlalu panas. Setelah proses penyeduhan dengan air, kopi kembali dihirup aromanya untuk membandingkan aroma sebelum diseduh dan sesudah diseduh. Aroma yang dihasilkan dari kopi tersebut dapat berupa enzymatic (seperti bunga, buah, rempah), sugar browning/gula panggang (seperti kacang, karamel, cokelat), atau dry distillation/bakaran (karbon, bumbu, obat-obatan).

Langkah berikutnya adalah acidity atau mengecek tingkat keasaman kopi. Pada kegiatan ini peserta diminta menyingkirkan ampas kopi dari gelas, menyendok kopi, dan menyeruput kopi. Saat kopi menyentuh langit-langit mulut dan tepian bawah lidah peserta akan merasakan keasaman seperti ketika menyantap buah atau menyesap anggur, dengan selintas rasa manis. Kegiatan selanjutnya adalah mengetahui cita rasa kopi. Pada kegiatan ini peserta diminta memberi gambaran tentang cita rasa kopi yang sudah disediakan.

“Proses cupping ini memerlukan ruangan dengan suhu stabil, tertutup, dan tidak banyak lalu lalang orang. Karena kalau di tempat terbuka, akan ada angin yang berhembus sehingga dapat mempengaruhi aroma kopi,” tutur Firdaus. (Rsyd/Rdh)

Narasumber : Dr. Ir. Suwardi, M.Agr, Dr. Ir. Ahmad Junaedi, M.Si

Keyword : cupping kopi, barista, kopi Indonesia

Document

Leave A Comment

Translate »