All for Joomla All for Webmasters

Memelihara Tradisi Akademis, Menerobos Ke Masa Depan

Siapa masih ingat kampus IPB Baranangsiang?  Konon di bawah tangga utamanya, dibalik prasasti berdirinya Fakultas Pertanian tertanggal 27 April 1952, terdapat suatu ruangan istimewa.  Ruangan tersebut  menyimpan naskah yang dituliskan dia atas lembaran perkamen dan ditandatanganilangsung oleh Dr.Ir. Soekarno.  Ingin tahu apa pesan founding father negara ini untuk pertanian Indonesia?  Berikut kutipan pidato beliau yang diberinya tajuk  “Soal Hidup atau Mati”.

“Aku bertanja kepadamu: sedangkan rakjat Indonesia akan mengalami tjelaka, bentjana, mala-petaka, dalam waktu jang dekat kalau soal makanan rakjat tidak segera dipetjahkan, sedangkan soal persediaan makanan rakjat ini bagi kita adalah soal hidup atau mati, kenapa dari kalangan-kalanganmu? Kenapa buat tahun 1951/1952 jang mendaftarkan diri sebagai mahasiswa fakultet pertanian hanja 120 orang, dan bagi fakultet kedokteran chewan hanya 7 orang?Tidak, pemuda-pemudiku, studie ilmu pertanian dan ilmu perchewanan tidak kurang penting dari studie lain-lain, tidak kurang memuaskan djiwa yang bertjita-tjita daripada studie jang lain-lain.Tjamkan, sekali lagi tjamkan, kalau kita tidak ‘aanpaltken’ soal makanan rakjat ini setjara besar-besaran, setjara radikal dan revolusioner, kita akan mengalami malapetaka!”

Pidato soal hidup atau mati Bung Karno itu bertutur tentang masalah besar yang akan dihadapi Indonesia dan sebuah panggilan hangat untuk membangun pertanian.  Namun kini, kalau dibaca pelan-pelan dan diresapi, terasa juga desir pertanyaan dan tuntutan.  Kenapa (= ke mana), kemana dari kalanganmu (akademisi pertanian) saat impor pangan semakin menjadi-jadi di negara agraris ini?Kemana, kemana dari kalanganmu saat soal makanan rakyat dikalahkan oleh kepentingan segelintir kalangan?

Sementara itu, Fakultas Pertanian telah berpindah ke Darmaga.  Namun tradisi akademisnya, semangat dan harapan yang menjadikannya terlahir, tidak seharusnya tertinggal di kampus lama.  Selama pohon yang ditanam Soekarno, yang tiap hari hilir mudik dilewati civitas akademika, masih berakar dan berdaun, atau selama mimbar perkuliahan di sampingnya masih menggaungkan diskusi seru dosen dan mahasiswanya, selama itu pula “Suara Darmaga” seharusnya bergema memberi penjelasan ilmiah soal pangan dan pertanian.  Atau seperti sumur ilmu di ladang keputusasaan, yang selalu didatangi orang-orang yang sedang mencari jawab.

Tidak mudah menterjemahkannya.  Disiplin ilmu yang semakin mengerucutsesekali membuat lupa bahwa ilmu agronomi, hortikultura, lanskap, tanah dan lahan, hama dan penyakit adalah serumpun ilmu pertanian yang bulir bernasnya tengah dinanti dengan harap-harap cemas untuk dipanen bersama, ditumbuk dan ditanak  guna memberi makan anak-anak negeri.  Kesenjangan komunikasi antarciva membutuhkan lebih banyak interfacemenurut bahasa komputernya, silaturahim kalau bahasa pengajiannya, forum atau apa sajalah namanya,  asal ada suatu ruang untuk belajar bersama antarciva, kelak dengan pelaku pertanian, dengan penentu kebijakan, dan pihak-pihak lain.  Ruang belajar ini adalah langkah pertama dari perjalanan ekspedisi menemukan pemikiran-pemikiran kritis dan konstruktif yang berbasis kepada kepentingan petani, atau setidaknya melahirkan empati terhadap permasalahan nasional yang ada.  Ke dalam, ruang belajar ini mendekatkan kembali kerenggangan antarcabang ilmu, sebab betapa sedih dan timpangnya rumpun pertanian kalau harus kehilangan anakan-anakannya.

Dan demikianlah,  nafas suatu universitas  menerobos ke masa depan untuk menemukan hal-hal baru di satu pihak, sedang di pihak lain bertahan pada tradisi akademisnya (Prof. Andi Hakim Nasution).  Diskusi ilmiah adalah sebuah tradisi akademis, kali ini coba diformulasi dalam bentuk “Suara Darmaga”, dan dibiarkan hidup alamiah namun agar mencapai sasarannya tetap dijaga agar mengikuti sejumlah kaidah, setidaknya (Dr. Hermanu Triwidodo):

  1. Hendaknya menyikapi pendapat orang dengan otak yang open minded (pikiran terbuka, terbebas dari prasangka), serta reasonable doubt terhadap pendapat sendiri sehingga mencegah sikap mau menang sendiri.  Dengan demikian jalan keluar yang bahkan takterpikirkan sebelumnya bisa ditemukan (expect the unexpected).
  2. Hendaknya disadari peran yang berbeda melahirkan karakter yang berbeda: yang mengerti belum tentu bisa melakukan, yang bisa belum tentu berwenang menjalankan, yang berwenang belum tentu mengerti memutuskan.
  3. Hendaknya forum bukan menjadi arena lempar tanggung jawab atau mencari kambing hitam, sehingga gagasan-gagasannya dapat menarik orang untuk datang dan mendengarkan karena disampaikan dengan santun dan tidak menyinggung.

Dari sebuah tradisi berbaju “Suara Darmaga”, ada sejumput asa lahirnya cetusan-cetusan ide yang dapat menerobos ke masa depan, seperti pidato Bung Karno di atas, yang walaupun terkategori pidato politis namun sarat perhitungan teknis yang dapat menjangkau masa 80-an, masa di mana pernah  terjadi swasembada beras di nusa antara ini.  Atau agar cerita kepada mahasiswa baru IPB tak lagi berhenti di BIMAS/INMAS tahun 60-an, karena setelah itu tak ada lagi tonggak sejarah yang terpancang (mohon beribu ampun kalau salah, tolong dikoreksi).

Lalu bagaimana caranya?  Meminjam pitutur sepuh ”mbongkar seka ndhuwur, mbangun seka ngisor” (membongkar dari atas, membangun dari bawah), seperti itulah cara orang membuat rumah.  Membongkar (baca:memperbaiki) seharusnya di mulai dari atas, yang paling dekat adalah memperbaiki  dan mengkritisi segenap aturan yang mengatasi permasalahan orang banyak (UU, inpres, kepmen, perda, dll) atau sejumlah isu aktual yang berkembang.  Selanjutnya menjelaskan kajian ilmiahnya, mengambil sikap, dan menyuarakannya selantang mungkin melalui media yang tersedia.  Ini adalah jalan ramai, yang kelak membuat harum nama yang mendengungkannya.

Tetapi tidak boleh dilupakan jalan satunya, jalan sunyi  membangun dari bawah.  Membangun dari kesabaran sebuah riset hingga menjadi produk, teknik, atau model yang berharga.  Dengan rasa percaya diri bahwa telah bertimbun-timbun produk, teknik, dan model yang dihasilkan akademisi Fakultas Pertanian IPB, yang diperlukan oleh “Suara Darmaga”  adalah mengikatnya dengan suhkata orang Jawa atau simpai kata orang Sunda, menjadi satu sapu lidi yang kuat dan bermanfaat.  Selanjutnya adalah mencari cara agar segalanya sampai kepada yang membutuhkan.  Sebuah produk teknologi pertanian agar bisa dimanfaatkan oleh petani untuk memperbesar kemakmurannya, atau sebuah model pengembangan pertanian dapat di-scaling up oleh yang berwenang agar manfaatnya terasa lebih luas.  Sebuah buku yang sarat hasil-hasil penelitian dan pemikiran yang konstruktif di bidang pertanian layak untuk mengawalinya.

Semoga…..

 

Ditulis Oleh Bonjok

Leave A Comment

Translate »